Cara Menjaga Kesehatan Reproduksi Pria agar Tetap Sehat

Cara menjaga kesehatan reproduksi pria

Kesehatan alat reproduksi pria perlu dijaga sejak dini, bukan hanya ketika sudah menikah atau sedang merencanakan kehamilan. Kebersihan penis dan testis, pola hidup, pencegahan infeksi, hingga pemeriksaan ketika muncul keluhan merupakan bagian penting dari kesehatan reproduksi pria.

Bagi Ayah dan Bunda yang memiliki anak laki-laki, kebiasaan menjaga kebersihan organ reproduksi juga sebaiknya mulai diajarkan sejak anak mampu merawat dirinya sendiri.

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan reproduksi mencakup kondisi fisik, mental dan sosial yang berkaitan dengan sistem reproduksi, bukan sekadar terbebas dari penyakit.

Apa yang Dimaksud dengan Kesehatan Reproduksi Pria?

Kesehatan reproduksi pria berkaitan dengan kondisi penis, testis, saluran reproduksi, hormon dan kemampuan sistem reproduksi menjalankan fungsinya dengan baik.

Gangguan pada sistem reproduksi dapat memengaruhi buang air kecil, fungsi seksual maupun kesuburan. WHO menyebut beberapa faktor yang dapat berhubungan dengan gangguan kesuburan pria, antara lain gangguan produksi sperma, sumbatan saluran reproduksi, gangguan hormon, varikokel, infeksi serta faktor gaya hidup.

Jadi, menjaga kesehatan reproduksi sebaiknya dilakukan sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan menunggu muncul masalah.

Cara Menjaga Kesehatan Alat Reproduksi Pria

1. Jaga kebersihan penis setiap hari

Membersihkan penis secara rutin merupakan bagian penting dari kebersihan organ reproduksi.

Saat mandi, bersihkan penis menggunakan air dan sabun yang lembut, kemudian keringkan dengan baik. Jika masih memiliki kulup, kebersihannya perlu diperhatikan sesuai kondisi dan kemampuan menarik kulup secara alami.

Jangan menarik kulup secara paksa karena dapat menyebabkan luka atau iritasi.

Ayah dan Bunda juga dapat mengajarkan anak laki-laki bahwa area genital harus dibersihkan dan dikeringkan setelah mandi atau setelah berkeringat.

2. Gunakan pakaian dalam yang bersih dan kering

Pakaian dalam sebaiknya diganti secara teratur, terutama setelah berkeringat atau melakukan aktivitas fisik.

Area genital yang terlalu lembap dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami iritasi dan gangguan kulit. Pilih pakaian yang nyaman dan tidak terlalu ketat untuk aktivitas sehari-hari.

3. Hindari kebiasaan merokok

Merokok tidak hanya berkaitan dengan kesehatan paru-paru dan jantung. WHO juga mencatat bahwa faktor gaya hidup seperti merokok dapat memengaruhi kesuburan pria.

Kualitas sperma dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga menjaga pola hidup sehat merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan reproduksi.

4. Jaga berat badan dan rutin bergerak

Berat badan berlebih dan obesitas dapat berhubungan dengan masalah kesehatan secara umum maupun kesuburan pria.

Karena itu, Ayah sebaiknya membiasakan aktivitas fisik, menjaga pola makan seimbang dan menghindari kebiasaan duduk terlalu lama.

Pedoman AUA/ASRM juga menekankan hubungan antara kesehatan reproduksi pria dengan kondisi kesehatan secara keseluruhan, termasuk obesitas, diabetes, hipertensi dan gangguan metabolik.

5. Hindari penggunaan steroid anabolik tanpa pengawasan dokter

Steroid anabolik yang digunakan untuk meningkatkan massa otot bukan berarti aman bagi sistem reproduksi.

WHO menyebut penggunaan steroid anabolik dapat menyebabkan perubahan pada parameter sperma, termasuk jumlah dan bentuk sperma.

Jika Ayah sedang menggunakan obat atau suplemen tertentu dan memiliki kekhawatiran mengenai kesuburan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

6. Lindungi diri dari infeksi menular seksual

Infeksi menular seksual atau IMS dapat terjadi tanpa gejala yang jelas. WHO menyebut sebagian besar IMS tidak selalu menimbulkan gejala, sehingga seseorang bisa saja mengalami infeksi tanpa menyadarinya.

Pencegahan dapat dilakukan dengan perilaku seksual yang aman, penggunaan kondom secara benar dan konsisten, serta pemeriksaan IMS sesuai risiko dan anjuran tenaga kesehatan.

CDC juga menyarankan pemeriksaan IMS berdasarkan kondisi masing-masing, seperti usia, riwayat seksual, praktik seksual dan adanya gejala.

7. Pertimbangkan vaksinasi HPV dan hepatitis B

Vaksinasi merupakan salah satu bagian dari pencegahan penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual.

CDC merekomendasikan vaksin HPV secara rutin pada anak laki-laki dan perempuan mulai usia 11–12 tahun, dan dapat dimulai sejak usia 9 tahun. Untuk orang yang belum mendapatkan vaksin sebelumnya, rekomendasi juga mencakup kelompok usia tertentu sesuai kondisi masing-masing.

Vaksin hepatitis B juga menjadi salah satu upaya pencegahan infeksi hepatitis B.

Ayah dan Bunda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui vaksinasi yang sesuai dengan usia anak maupun kondisi orang dewasa.

8. Perhatikan kondisi testis

Pria juga perlu mengenali kondisi normal testisnya sendiri.

NHS menyarankan pemeriksaan testis secara berkala, sekitar satu kali dalam sebulan, agar seseorang lebih mudah mengenali perubahan yang tidak biasa. Hal yang perlu diperhatikan antara lain benjolan, pembengkakan, perubahan ukuran, bentuk atau berat testis.

Tidak semua perubahan berarti kanker atau penyakit serius. Namun, perubahan yang baru muncul dan tidak biasa sebaiknya diperiksakan ke dokter.

9. Jangan mengabaikan keluhan pada penis

Segera konsultasikan ke dokter jika terdapat keluhan seperti:

  • Nyeri pada penis atau testis
  • Benjolan atau pembengkakan
  • Keluar cairan yang tidak biasa dari penis
  • Darah pada urine atau cairan dari penis
  • Luka yang tidak kunjung sembuh
  • Perubahan warna kulit penis
  • Sulit menarik kulup
  • Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil
  • Perubahan pada ukuran atau bentuk testis

Keluhan tersebut bisa disebabkan oleh berbagai kondisi dan tidak otomatis menunjukkan penyakit tertentu. Namun, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya. NHS juga menyarankan pemeriksaan medis apabila terdapat perubahan pada penis, perdarahan, cairan yang tidak biasa atau gejala yang menetap.

Apakah Sunat Berhubungan dengan Kebersihan Alat Reproduksi?

Sunat merupakan salah satu tindakan pada penis yang juga berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan penis. Namun, sunat bukan satu-satunya cara untuk menjaga kesehatan reproduksi pria.

Setelah sunat, kebersihan area penis tetap perlu dijaga. Begitu juga pada anak yang belum disunat, kebersihan penis dan kulup harus diperhatikan dengan cara yang benar dan tidak menarik kulup secara paksa.

Karena kondisi setiap anak berbeda, Ayah dan Bunda dapat berkonsultasi dengan dokter apabila menemukan masalah seperti kulup yang sulit ditarik, nyeri, bengkak atau infeksi berulang.

Apakah Kesehatan Reproduksi Pria Bisa Memengaruhi Kesuburan?

Bisa.

Kesuburan pria dipengaruhi oleh banyak faktor. WHO menyebut masalah pada jumlah, bentuk dan pergerakan sperma dapat menjadi salah satu penyebab infertilitas pria. Infeksi, gangguan hormon, sumbatan saluran reproduksi, varikokel, obat tertentu serta faktor gaya hidup juga dapat berperan.

Karena itu, masalah kesuburan tidak selalu berasal dari pihak perempuan. Jika pasangan belum memperoleh kehamilan setelah 12 bulan hubungan seksual rutin tanpa kontrasepsi, evaluasi medis terhadap kedua pasangan dapat dipertimbangkan. WHO mendefinisikan infertilitas sebagai kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi.

Kapan Harus Memeriksakan Kesehatan Reproduksi Pria?

Tidak perlu menunggu keluhan menjadi berat untuk berkonsultasi.

Pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan apabila terdapat nyeri, benjolan, pembengkakan, keluar cairan dari penis, gangguan buang air kecil, perubahan pada testis atau masalah kesuburan.

Pemeriksaan juga penting jika seseorang memiliki risiko terkena infeksi menular seksual. Hal ini karena beberapa IMS dapat tidak menimbulkan gejala tetapi tetap dapat berdampak pada kesehatan reproduksi.

Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Reproduksi Pria

Secara sederhana, Ayah dapat mulai menjaga kesehatan reproduksi dengan kebiasaan berikut:

  1. Membersihkan penis setiap hari.
  2. Menjaga area genital tetap kering.
  3. Menggunakan pakaian dalam yang bersih.
  4. Tidak merokok.
  5. Menjaga berat badan.
  6. Rutin beraktivitas fisik.
  7. Menghindari penggunaan steroid anabolik tanpa pengawasan dokter.
  8. Mencegah infeksi menular seksual.
  9. Melakukan vaksinasi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
  10. Mengenali perubahan pada penis dan testis.
  11. Tidak mengabaikan keluhan yang menetap.
  12. Melakukan pemeriksaan medis bila terdapat masalah reproduksi atau kesuburan.

Baca juga: Kesehatan Alat Reproduksi Pria: Cara Menjaga dan Masalah yang Perlu Diwaspadai

Kesimpulan

Kesehatan alat reproduksi pria perlu dijaga sejak usia anak hingga dewasa. Kebersihan penis, pola hidup sehat, pencegahan infeksi, vaksinasi, serta perhatian terhadap perubahan pada penis dan testis merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Untuk Ayah dan Bunda yang memiliki anak laki-laki, kebiasaan tersebut bisa mulai diajarkan sejak dini dengan bahasa yang sederhana. Anak juga perlu memahami bahwa organ reproduksi merupakan bagian tubuh yang harus dijaga kebersihan dan kesehatannya.

Jika muncul nyeri, benjolan, pembengkakan, cairan yang tidak biasa, gangguan buang air kecil atau perubahan pada organ reproduksi, jangan hanya menunggu keluhan hilang sendiri. Konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sesuai kondisi.

Bagikan :