Kesehatan alat reproduksi pria perlu diperhatikan sejak dini, bukan hanya ketika sudah muncul keluhan. Penis, testis, skrotum, saluran sperma, hingga kelenjar prostat memiliki fungsi yang saling berkaitan dengan sistem reproduksi dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Ayah dan Bunda juga perlu mengajarkan anak untuk mengenali kondisi normal pada tubuhnya. Kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan area genital dan tidak mengabaikan perubahan pada penis atau testis dapat membantu masalah kesehatan diketahui lebih awal.
Daftar Isi
ToggleApa Saja yang Termasuk Alat Reproduksi Pria?
Sistem reproduksi pria terdiri dari beberapa bagian dengan fungsi yang berbeda, di antaranya:
- Penis, berfungsi sebagai saluran keluarnya urine dan semen.
- Testis, menghasilkan sperma dan hormon testosteron.
- Skrotum, kantong kulit yang melindungi testis sekaligus membantu menjaga suhu yang sesuai untuk produksi sperma.
- Epididimis, tempat sperma mengalami pematangan dan disimpan sementara.
- Vas deferens, saluran yang membawa sperma.
- Prostat dan vesikula seminalis, menghasilkan cairan yang menjadi bagian dari semen.
Testis memiliki peran penting karena menghasilkan sperma dan testosteron. Karena itu, perubahan ukuran, bentuk, atau munculnya benjolan pada testis sebaiknya tidak dianggap sepele.
Cara Menjaga Kesehatan Alat Reproduksi Pria
Menjaga kesehatan reproduksi sebenarnya tidak harus rumit. Beberapa kebiasaan berikut dapat dilakukan sehari-hari.
1. Jaga kebersihan penis dan area genital
Bersihkan area penis dan skrotum secara teratur menggunakan air dan sabun yang lembut bila diperlukan. Setelah mandi atau berkeringat, pastikan area genital dikeringkan dengan baik.
Bagi anak yang belum disunat, Ayah dan Bunda perlu memperhatikan kebersihan bagian bawah kulup sesuai kemampuan kulup untuk ditarik secara alami. Jangan menarik kulup secara paksa karena dapat menyebabkan luka.
2. Gunakan pakaian dalam yang bersih
Ganti pakaian dalam secara rutin, terutama setelah berolahraga atau banyak berkeringat. Area genital yang terlalu lembap dapat membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi.
Pilih pakaian dalam yang nyaman dan tidak terlalu ketat untuk aktivitas sehari-hari.
3. Hindari rokok dan jaga pola hidup sehat
Kesehatan reproduksi pria juga berkaitan dengan kesehatan pembuluh darah, hormon dan kondisi tubuh secara umum.
Merokok, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih dan konsumsi alkohol berlebihan dapat berkaitan dengan gangguan fungsi ereksi. NIDDK menjelaskan bahwa disfungsi ereksi dapat berhubungan dengan penyakit pembuluh darah, diabetes, obesitas, merokok, konsumsi alkohol serta beberapa kondisi kesehatan lainnya.
Karena itu, olahraga rutin, pola makan seimbang, menjaga berat badan dan berhenti merokok bukan hanya baik untuk jantung, tetapi juga dapat membantu menjaga fungsi seksual.
4. Lindungi diri dari infeksi menular seksual
Infeksi menular seksual atau IMS dapat menyerang sistem reproduksi pria. Beberapa infeksi bahkan tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang dapat tidak menyadari dirinya sedang terinfeksi.
WHO mencatat lebih dari 1 juta infeksi menular seksual yang dapat disembuhkan terjadi setiap hari pada kelompok usia 15–49 tahun secara global. Beberapa IMS juga dapat berdampak pada kesehatan reproduksi, termasuk meningkatkan risiko infertilitas dan komplikasi lainnya.
Penggunaan kondom secara benar dan konsisten dapat membantu mengurangi risiko penularan IMS. Pemeriksaan juga diperlukan jika muncul keluhan atau terdapat faktor risiko tertentu.
5. Pertimbangkan vaksinasi yang sesuai
Vaksinasi juga menjadi bagian dari pencegahan penyakit yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.
Salah satunya vaksin HPV. CDC merekomendasikan vaksin HPV secara rutin pada usia 11–12 tahun dan dapat dimulai sejak usia 9 tahun. Vaksinasi juga direkomendasikan sebagai catch-up hingga usia 26 tahun bagi yang belum mendapatkan vaksinasi secara memadai. Untuk sebagian orang dewasa usia 27–45 tahun, keputusan vaksinasi dapat didiskusikan bersama tenaga kesehatan.
Vaksin hepatitis B juga penting karena virus hepatitis B dapat ditularkan melalui aktivitas seksual dan kontak dengan darah.
Baca juga: Fungsi Uretra pada Pria: Saluran Urine dan Sistem Reproduksi
Masalah Kesehatan Alat Reproduksi Pria yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua perubahan pada organ reproduksi berarti penyakit serius. Namun, beberapa kondisi tetap perlu diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui.
Benjolan pada testis
Benjolan atau pembengkakan pada testis perlu diperiksa oleh dokter, terutama jika baru muncul atau disertai perubahan ukuran maupun rasa berat pada skrotum.
Kanker testis memang bukan satu-satunya penyebab benjolan, tetapi kondisi ini termasuk salah satu masalah yang perlu diwaspadai. NHS menyebutkan bahwa gejalanya dapat berupa benjolan atau pembengkakan, testis membesar, rasa nyeri atau rasa berat, keras pada skrotum.
Ayah juga dapat mengajarkan anak laki-laki, terutama setelah memasuki masa pubertas, untuk mengenali kondisi normal pada testisnya. NHS menyarankan pemeriksaan




