Sunat dan Kesehatan Reproduksi Pria: Apa Hubungannya?

Sunat dan Kesehatan Reproduksi Pria

Sunat bukan hanya berkaitan dengan tradisi atau keagamaan. Dari sisi kesehatan, sunat juga memiliki hubungan dengan kesehatan reproduksi pria, terutama dalam hal kebersihan penis, risiko beberapa infeksi, dan pencegahan penyakit tertentu.

Lalu, apakah sunat bisa membuat sistem reproduksi pria menjadi lebih sehat? Jawabannya perlu dijelaskan dengan tepat, karena manfaat sunat berbeda-beda tergantung usia, kondisi kesehatan dan faktor risiko seseorang.

Apa Hubungan Sunat dengan Kesehatan Reproduksi Pria?

Sunat adalah tindakan mengangkat kulit yang menutupi kepala penis atau kulup. Setelah sunat, area kepala penis menjadi lebih mudah dibersihkan karena tidak lagi tertutup oleh kulup.

Kondisi ini dapat membantu menjaga kebersihan penis dan menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan reproduksi pria. Namun, sunat bukan berarti membuat seseorang terbebas dari seluruh penyakit pada organ reproduksi.

Kesehatan reproduksi tetap dipengaruhi oleh banyak hal, seperti kebersihan diri, perilaku seksual yang aman, pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, serta penanganan infeksi secara tepat.

1. Sunat Membantu Menjaga Kebersihan Penis

Kulup dapat menjadi tempat berkumpulnya sel kulit mati, minyak alami dan cairan tubuh apabila kebersihan tidak dijaga dengan baik.

Pada penis yang belum disunat, kulup perlu ditarik secara perlahan saat sudah memungkinkan untuk dibersihkan. Bila kebersihan kurang diperhatikan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan atau infeksi pada area penis.

Setelah sunat, bagian penis yang sebelumnya tertutup kulup menjadi lebih mudah dibersihkan.

Bagi Ayah dan Bunda yang memiliki anak laki-laki, mengajarkan kebiasaan menjaga kebersihan organ intim sejak kecil tetap penting, baik anak sudah disunat maupun belum.

2. Sunat Berkaitan dengan Risiko Infeksi Saluran Kemih

Salah satu manfaat kesehatan yang telah diteliti adalah hubungan sunat dengan risiko infeksi saluran kemih atau ISK.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki yang disunat memiliki risiko ISK yang lebih rendah dibandingkan anak yang tidak disunat. Sebuah systematic review dan meta-analysis terhadap lebih dari 400 ribu anak menemukan adanya hubungan antara sunat dan penurunan risiko ISK.

Penelitian yang lebih baru pada anak dengan antenatal hydronephrosis juga menemukan angka ISK yang lebih rendah pada kelompok yang disunat. Namun, hasil penelitian tersebut berlaku pada kelompok dengan kondisi medis tertentu sehingga tidak bisa langsung disamakan dengan semua anak.

Artinya, sunat dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kesehatan saluran kemih, tetapi bukan satu-satunya cara mencegah ISK.

3. Sunat Dapat Mengurangi Risiko Beberapa Infeksi Menular Seksual

Hubungan sunat dengan kesehatan reproduksi pria juga banyak diteliti dalam kaitannya dengan infeksi menular seksual atau IMS.

WHO menyebut voluntary medical male circumcision sebagai salah satu intervensi pencegahan HIV pada laki-laki dalam konteks tertentu, khususnya untuk mengurangi risiko penularan HIV secara heteroseksual dari perempuan ke laki-laki. Bukti dari uji klinis menunjukkan penurunan risiko sekitar 60 persen.

CDC juga menyebut bahwa sunat dapat mengurangi risiko HIV dan beberapa IMS tertentu pada laki-laki heteroseksual. Dalam uji klinis, penurunan risiko HIV pada laki-laki mencapai sekitar 50–60 persen.

Tetapi ada hal penting yang sering salah dipahami.

Sunat bukan perlindungan 100 persen dari HIV atau IMS.

WHO menegaskan bahwa perlindungan yang diberikan sunat terhadap HIV bersifat parsial. Karena itu, sunat tetap perlu disertai langkah pencegahan lainnya, termasuk perilaku seksual yang aman dan penggunaan kondom.

4. Bagaimana dengan HPV dan Herpes?

Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara sunat dengan penurunan risiko infeksi HPV genital berisiko tinggi dan herpes genital pada laki-laki.

CDC mencatat bahwa penelitian klinis menunjukkan efek perlindungan terhadap HPV genital berisiko tinggi dan herpes genital.

WHO juga memasukkan sunat medis sebagai salah satu intervensi biomedis yang dapat memberikan perlindungan terhadap beberapa IMS, termasuk herpes dan HPV.

Meski begitu, sunat tidak menggantikan vaksinasi HPV. Vaksin HPV tetap merupakan salah satu cara penting untuk mencegah infeksi HPV tertentu.

Jadi, untuk kesehatan reproduksi secara menyeluruh, pendekatannya bukan hanya mengandalkan satu tindakan saja.

5. Apakah Sunat Berpengaruh pada Kesuburan Pria?

Ini salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul.

Sunat tidak terbukti secara langsung meningkatkan kesuburan pria.

Kesuburan pria berkaitan dengan banyak faktor, terutama produksi dan kualitas sperma, fungsi testis, hormon, saluran reproduksi, serta berbagai kondisi kesehatan lainnya.

WHO juga menegaskan bahwa sunat bukan pengobatan untuk infertilitas atau gangguan kesuburan.

Jadi, jika Ayah dan Bunda mendengar bahwa sunat pasti membuat anak menjadi lebih subur ketika dewasa, pernyataan tersebut tidak tepat bila dianggap sebagai fakta medis.

6. Apakah Sunat Mempengaruhi Fungsi Seksual Saat Dewasa?

Pembahasan mengenai sunat dan fungsi seksual sering menimbulkan kekhawatiran.

Penelitian mengenai hal ini cukup banyak dan hasilnya tidak semuanya identik. Namun, berbagai systematic review tidak menunjukkan bukti kuat bahwa sunat secara umum menyebabkan penurunan fungsi seksual pria. Salah satu systematic review yang menilai berbagai penelitian menyimpulkan bahwa bukti berkualitas lebih tinggi secara umum menunjukkan tidak adanya atau hanya efek negatif minimal terhadap fungsi seksual, sensasi maupun kepuasan seksual.

Meta-analysis yang diterbitkan pada 2025 juga meneliti kepuasan seksual, fungsi ereksi dan beberapa aspek fungsi seksual lainnya. Peneliti menemukan beberapa hasil yang mengarah pada perbaikan, tetapi menekankan adanya heterogenitas penelitian sehingga hasilnya tetap perlu ditafsirkan dengan hati-hati.

Jadi, tidak tepat jika sunat secara otomatis dianggap akan menyebabkan gangguan seksual ketika dewasa.

7. Bagaimana dengan Risiko Kanker Penis?

Kanker penis termasuk penyakit yang jarang terjadi. Sejumlah penelitian epidemiologi menemukan adanya hubungan antara sunat pada masa anak atau remaja dengan risiko kanker penis invasif yang lebih rendah.

Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa faktor lain seperti riwayat fimosis ikut berperan dalam hubungan tersebut. Karena itu, manfaat sunat tidak sebaiknya disederhanakan menjadi “sunat pasti mencegah kanker penis”.

Menjaga kebersihan organ intim dan segera memeriksakan kelainan pada penis tetap penting.

Apakah Sunat Berarti Kesehatan Reproduksi Pasti Lebih Baik?

Belum tentu.

Sunat dapat memberikan sejumlah manfaat kesehatan, tetapi kesehatan reproduksi pria tidak hanya ditentukan oleh apakah seseorang sudah disunat atau belum.

Beberapa kebiasaan yang tetap penting dilakukan adalah:

  • Menjaga kebersihan penis dan area genital.
  • Mengajarkan anak cara membersihkan organ intim dengan benar.
  • Tidak mengabaikan keluhan seperti nyeri, bengkak, luka atau keluar cairan yang tidak normal.
  • Melakukan pemeriksaan medis jika terdapat masalah pada penis atau testis.
  • Mendapatkan vaksinasi yang direkomendasikan, termasuk vaksin HPV sesuai usia dan kondisi.
  • Saat dewasa, menerapkan perilaku seksual yang aman.
  • Melakukan pemeriksaan dan pengobatan bila terdapat infeksi menular seksual.

Dengan kata lain, sunat merupakan salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan, bukan satu-satunya penentu kesehatan reproduksi pria.

Bagaimana dengan Sunat pada Anak?

Untuk Ayah dan Bunda yang sedang mempertimbangkan sunat anak, hal yang paling penting bukan hanya memilih metode yang sedang populer.

Perhatikan siapa tenaga medis yang melakukan tindakan, bagaimana standar kebersihannya, bagaimana kondisi anak sebelum tindakan, serta bagaimana edukasi perawatan setelah sunat diberikan.

Pemilihan waktu dan metode sunat juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi anak. Anak dengan kondisi khusus seperti kelainan bentuk penis, fimosis tertentu, hipospadia atau riwayat masalah pada saluran kemih perlu mendapatkan penilaian dokter terlebih dahulu sebelum menjalani sunat.

Di Alfatih Sunat Center, pemeriksaan kondisi anak dan konsultasi menjadi bagian penting sebelum tindakan. Salah satu layanan yang digunakan adalah metode TeknoSealer, yaitu metode sunat modern yang menggabungkan penggunaan alat bantu dengan proses pemotongan dan penutupan jaringan sesuai teknik yang dilakukan tenaga medis; pilihan metode tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak dan hasil pemeriksaan dokter.

Kapan Ayah dan Bunda Perlu Membawa Anak ke Dokter?

Jangan menunggu sampai masalah menjadi berat jika anak mengalami keluhan pada organ reproduksi.

Segera konsultasikan kepada dokter apabila terdapat:

  • Kulup sulit ditarik dan menimbulkan keluhan.
  • Penis sering mengalami kemerahan atau bengkak.
  • Nyeri ketika buang air kecil.
  • Keluar cairan yang tidak normal dari penis.
  • Infeksi saluran kemih yang berulang.
  • Bentuk penis tampak tidak normal.
  • Testis terasa nyeri atau mengalami pembengkakan.
  • Keluhan pada penis yang tidak membaik.

Pemeriksaan lebih awal membantu dokter menentukan apakah kondisi tersebut masih normal sesuai usia atau membutuhkan penanganan.

Kesimpulan

Sunat dan kesehatan reproduksi pria memiliki hubungan, terutama dalam aspek kebersihan organ intim, risiko infeksi saluran kemih dan pencegahan sebagian infeksi menular seksual. Bukti ilmiah juga menunjukkan manfaat tertentu terhadap pencegahan HIV pada laki-laki dalam konteks penularan heteroseksual, tetapi perlindungannya tidak bersifat 100 persen.

Sunat juga bukan berarti seseorang otomatis terbebas dari masalah kesehatan reproduksi. Kebersihan, vaksinasi, perilaku seksual yang aman ketika dewasa, pemeriksaan kesehatan dan penanganan infeksi tetap memiliki peran penting.

Jadi, bila Ayah dan Bunda sedang mempertimbangkan sunat untuk ananda, sebaiknya keputusan dilakukan dengan informasi yang lengkap dan mempertimbangkan kondisi kesehatan anak, bukan hanya karena mengikuti tren atau anggapan bahwa sunat dapat mencegah semua penyakit reproduksi.

Bagikan :