Bermain bersama bayi tidak harus menggunakan mainan mahal. Aktivitas sederhana seperti ciluk-ba ternyata bisa menjadi cara menyenangkan untuk menemani proses belajar si kecil. Bagi Ayah dan Bunda, permainan ini juga dapat menjadi momen untuk membangun kedekatan sekaligus mengamati perkembangan bayi dari hari ke hari.
Ciluk-ba dilakukan dengan cara sederhana. Ayah atau Bunda menutup wajah menggunakan kedua tangan atau kain, kemudian membukanya sambil mengatakan, “Ciluk… ba!” Meski terlihat sederhana, permainan ini melibatkan perhatian, interaksi sosial dan kemampuan bayi memahami bahwa seseorang atau benda tetap ada meskipun untuk sementara tidak terlihat.
Daftar Isi
ToggleMengapa Ciluk-Ba Baik untuk Perkembangan Bayi?
Menurut American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org, permainan ciluk-ba dapat membantu bayi memahami konsep object permanence, yaitu pemahaman bahwa benda atau orang tetap ada meskipun sedang tidak terlihat. Kemampuan ini mulai berkembang pada masa bayi dan terus semakin matang seiring bertambahnya usia.
UNICEF juga memasukkan permainan ciluk-ba sebagai salah satu aktivitas yang dapat dilakukan bersama bayi. Pada usia sekitar 6 bulan, bayi mulai menikmati permainan yang melibatkan gerakan tubuh seperti ciluk-ba. Memasuki usia 9 bulan, bayi umumnya semakin tertarik bermain ciluk-ba dan mencari benda yang disembunyikan.
Selain itu, permainan sederhana ini memberikan kesempatan bagi bayi untuk belajar melalui interaksi langsung dengan orang yang merawatnya. WHO menjelaskan bahwa perkembangan anak usia dini sangat berkaitan dengan responsive caregiving, yaitu ketika orang tua atau pengasuh memperhatikan, memahami, dan merespons kebutuhan serta sinyal dari anak.
Manfaat Bermain Ciluk-Ba untuk Bayi
Walaupun hanya membutuhkan waktu beberapa menit, ciluk-ba dapat memberikan beberapa pengalaman belajar bagi bayi, antara lain:
1. Mengenalkan konsep keberadaan benda
Saat wajah Ayah atau Bunda ditutup kemudian muncul kembali, bayi belajar bahwa sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti benar-benar hilang. Pada usia tertentu, bayi bahkan mulai mencoba mencari benda yang disembunyikan.
2. Melatih perhatian dan pengamatan
Perubahan dari wajah yang tertutup menjadi terlihat kembali membuat bayi memperhatikan apa yang terjadi. Ayah dan Bunda dapat mengulangi permainan dengan perlahan sambil melihat respons si kecil.
3. Mendorong interaksi sosial
Bayi belajar mengenali ekspresi wajah, suara dan pola interaksi dari orang terdekatnya. CDC mencatat bahwa tersenyum atau tertawa ketika diajak bermain ciluk-ba termasuk salah satu milestone sosial-emosional yang diamati pada bayi usia 9 bulan.
4. Mendukung komunikasi
Ayah dan Bunda dapat mengiringi permainan dengan kata-kata sederhana. Misalnya, “Mana Bunda?” lalu setelah wajah terlihat kembali, “Ini Bunda!” Cara seperti ini membuat permainan sekaligus menjadi kesempatan bagi bayi mendengar kata dan suara secara berulang.
5. Memperkuat kedekatan dengan orang tua
Yang paling penting, ciluk-ba merupakan permainan dua arah. Bayi tidak hanya melihat sesuatu, tetapi juga mendapatkan perhatian dan respons langsung dari Ayah dan Bunda. Interaksi seperti ini merupakan bagian penting dari pengasuhan yang responsif.
Cara Bermain Ciluk-Ba Sesuai Usia Bayi
Ayah dan Bunda tidak perlu membuat permainan menjadi rumit. Untuk bayi yang masih kecil, cukup tutup wajah dengan tangan selama beberapa detik lalu buka kembali sambil tersenyum.
Ketika bayi mulai lebih aktif, Ayah dan Bunda dapat menggunakan kain tipis yang aman atau menyembunyikan mainan di balik benda yang mudah dijangkau. Biarkan bayi mencoba mencari benda tersebut.
Pada usia sekitar 9 bulan, bayi biasanya mulai lebih tertarik mencari benda yang disembunyikan. UNICEF mencatat bahwa bayi pada usia ini juga mulai mengikuti benda yang jatuh dan memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya.
Tetap perhatikan keamanan. Jangan menggunakan benda kecil yang mudah tertelan dan jangan meninggalkan bayi sendirian saat bermain. Jika menggunakan kain, pastikan tidak menutupi wajah bayi dan permainan tetap dilakukan dengan pengawasan Ayah dan Bunda.
Tidak Perlu Lama, yang Penting Interaktif
Stimulasi bayi tidak harus dilakukan dalam sesi khusus yang panjang. Permainan sederhana dapat dilakukan di sela aktivitas sehari-hari, misalnya setelah mandi, saat bermain di lantai atau ketika Ayah dan Bunda sedang mengajak bayi berbicara.
CDC juga menganjurkan orang tua untuk bermain, berbicara dan berinteraksi langsung dengan bayi. Untuk bayi, pengalaman belajar dari interaksi nyata jauh lebih penting daripada sekadar melihat layar.
Perlu diingat, setiap bayi memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Ayah dan Bunda dapat menggunakan milestone sebagai panduan, bukan sebagai perlombaan. Bila ada kekhawatiran mengenai perkembangan atau bayi kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Baca juga: Pertimbangkan Asah Kemampuan Motorik Halus Bayi dengan Permainan Sederhana
Kesimpulan
Bermain ciluk-ba dapat menjadi stimulasi sederhana untuk mendukung perkembangan bayi, terutama dalam mengenalkan konsep keberadaan benda, perhatian, interaksi sosial dan komunikasi. Yang membuat permainan ini berharga bukan hanya aktivitas “ciluk-ba”-nya, tetapi interaksi hangat antara bayi dengan Ayah dan Bunda.
Jadi, tidak perlu menunggu punya banyak mainan. Cukup gunakan tangan, senyum, suara dan sedikit waktu untuk bermain bersama si kecil. Dari permainan sederhana inilah, bayi bisa mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan setiap hari.




