Hubungan Ayah dan si kecil tidak selalu dibangun lewat hal besar. Justru, kebiasaan sederhana seperti mengajak bermain, mendengarkan cerita, atau menemani anak sebelum tidur bisa menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan.
UNICEF menempatkan orang tua dan pengasuh sebagai bagian penting dalam perkembangan anak karena interaksi sehari-hari ikut membentuk pengalaman yang mendukung perkembangan otak dan kemampuan sosial anak. WHO juga menekankan pentingnya hubungan yang hangat, responsif, dan konsisten antara anak dengan pengasuhnya.
Lalu, apa yang bisa dilakukan Ayah untuk memperkuat hubungan dengan si kecil?
Daftar Isi
Toggle1. Luangkan waktu khusus tanpa distraksi
Tidak harus berjam-jam. Ayah bisa menyediakan waktu 15–30 menit setiap hari untuk benar-benar bersama anak.
Letakkan ponsel, matikan televisi dan fokus pada kegiatan yang sedang dilakukan bersama. Bisa bermain mobil-mobilan, menggambar, membaca buku atau sekadar ngobrol.
Yang penting bukan hanya berapa lama waktunya, tetapi bagaimana kualitas interaksi selama bersama si kecil.
2. Dengarkan cerita si kecil sampai selesai
Anak mungkin bercerita tentang hal yang menurut orang dewasa sederhana. Misalnya mainan yang rusak, teman di sekolah, atau kejadian kecil yang membuatnya senang.
Cobalah tidak langsung memotong atau memberikan solusi. Dengarkan terlebih dahulu dan berikan respons seperti, “Oh begitu ceritanya,” atau “Ayah mengerti kamu merasa begitu.”
Interaksi dua arah seperti ini dikenal sebagai serve and return. Ketika anak memberikan respons melalui suara, ekspresi, gerakan atau perkataan kemudian orang dewasa merespons dengan tepat, interaksi tersebut membantu membangun kemampuan bahasa, sosial dan emosional anak.
3. Ajak bermain sesuai minat anak
Bermain adalah salah satu cara paling mudah untuk mendekatkan Ayah dengan si kecil.
Ayah tidak perlu menentukan permainan yang rumit. Ikuti saja permainan yang sedang disukai anak. Jika anak ingin bermain peran menjadi dokter, Ayah bisa menjadi pasien. Kalau anak ingin bermain bola, ikutlah bermain.
Saat bermain, Ayah juga bisa mengajukan pertanyaan sederhana seperti, “Menurut kamu setelah ini kita harus bagaimana?”
Cara ini membuat anak merasa didengarkan sekaligus mendapatkan kesempatan untuk berpikir dan berkomunikasi.
4. Biasakan kontak fisik yang hangat
Pelukan, menggandeng tangan, mengusap kepala atau memangku si kecil bisa menjadi bentuk kasih sayang yang sederhana.
WHO menjelaskan bahwa respons yang hangat, kontak fisik, kontak mata serta berbicara dengan anak merupakan bagian dari pengasuhan responsif yang membantu membangun hubungan aman dan penuh kasih.
Tentu, tetap perhatikan kenyamanan anak. Tidak semua anak selalu ingin dipeluk, jadi Ayah bisa mengikuti respons dan kebutuhannya.
5. Beri apresiasi pada usaha, bukan hanya hasil
Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, Ayah tidak harus selalu mengatakan “kamu pintar”.
Coba berikan apresiasi yang lebih spesifik, misalnya, “Ayah lihat kamu tadi berusaha menyelesaikan gambarnya sampai selesai.”
Anak jadi belajar bahwa proses dan usaha mereka juga diperhatikan.
6. Libatkan si kecil dalam kegiatan sehari-hari
Kedekatan tidak harus selalu dibangun saat bermain. Ayah juga bisa mengajak anak melakukan aktivitas sederhana seperti merapikan mainan, memasak makanan ringan, menyiram tanaman atau pergi berbelanja.
Anak mendapatkan kesempatan untuk belajar sekaligus merasakan bahwa dirinya punya peran dalam keluarga.
UNICEF juga menekankan bahwa keterlibatan Ayah dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk merawat, bermain, mendengarkan, memberi dukungan emosional dan terlibat dalam kehidupan anak.
7. Hadir saat si kecil membutuhkan Ayah
Ketika anak sedang takut, sedih atau kecewa, jangan buru-buru mengatakan “jangan menangis”.
Coba hadir dan bantu anak mengenali perasaannya. Misalnya, “Kamu kelihatan sedih karena mainannya rusak ya?”
Respons sederhana seperti ini membantu anak memahami bahwa perasaannya boleh disampaikan dan ada orang yang siap mendengarkannya.
WHO dan Harvard Center on the Developing Child sama-sama menekankan pentingnya hubungan yang responsif dan konsisten dalam mendukung perkembangan anak serta membantu membangun rasa aman.
Tidak Perlu Menunggu Momen Istimewa
Ayah tidak perlu menunggu liburan atau akhir pekan untuk membangun kedekatan dengan si kecil. Momen kecil setiap hari justru bisa menjadi kesempatan yang berharga.
Mulai dari sarapan bersama, mengantar sekolah, bermain sebentar setelah pulang kerja, membaca buku sebelum tidur atau sekadar bertanya, “Hari ini bagaimana?”
Bunda juga bisa membantu menciptakan kesempatan agar Ayah dan si kecil memiliki waktu bersama. Tidak perlu selalu sempurna, yang penting dilakukan secara konsisten.
Hubungan yang kuat dibangun sedikit demi sedikit melalui kehadiran, perhatian dan respons yang diberikan berulang kali.
Baca Juga: Tips Aman Mengajak Bayi Jalan-jalan Keluar Rumah
Kesimpulan
Memperkuat hubungan Ayah dan si kecil tidak membutuhkan cara yang rumit. Dengarkan ceritanya, luangkan waktu tanpa distraksi, bermain bersama, berikan sentuhan hangat, libatkan anak dalam aktivitas sehari-hari dan hadir ketika ia membutuhkan dukungan.
Hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari pengasuhan yang hangat dan responsif. Karena bagi si kecil, kehadiran Ayah yang mau mendengarkan dan meluangkan waktu bisa jauh lebih berarti daripada kegiatan yang mahal atau mewah.
Referensi dan Sumber
- WHO – Nurturing care and men’s engagement: thematic brief, 2026.
- WHO – Nurturing care for early childhood development.
- WHO – Helping children learn, be happy and thrive.
- Harvard Center on the Developing Child – Serve and Return.
- UNICEF – Seeds of Success: Nurturing Young Children through Parenting Support, 2025.
- UNICEF – Gender-Transformative Parenting Resource Modules.
- Materi internal Alfatih yang menggunakan pendekatan komunikasi kepada “Ayah dan Bunda” serta menekankan kenyamanan dan pendampingan keluarga.




