Sering Menakuti Anak Dengan Ancaman Sunat Bikin Anak Nggak Mau Sunat

Jangan takutkan anak dengan ancaman sunat. Dampaknya bikin trauma & menolak sunat selamanya. Simak solusinya di sini.

Sebagai Ayah dan Bunda, kita pasti ingin si kecil menjalani proses sunat dengan lancar. Sunat, atau khitan, adalah momen penting yang menandakan perjalanan tumbuh kembang anak laki-laki. Namun, seringkali tanpa disadari, Ayah dan Bunda justru melakukan kesalahan klasik yang bikin efeknya kontraproduktif: Menakuti anak dengan ancaman proses sunat yang mengerikan.

“Nak, kalau nggak mau sunat nanti sakit, lho penisnya!”
“Awas ya, kalau kamu nggak berani sunat, Bunda tinggal pergi!”

Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar sepele dan dianggap sebagai bercandaan ringan untuk memotivasi. Namun, menurut para psikolog, ancaman ini justru menjadi bumerang. Anak yang seharusnya merasa didukung, malah merasa terintimidasi. Akibatnya, alih-alih siap secara mental, si kecil malah semakin ketakutan dan nggak mau sunat karena menganggap sunat adalah sebuah hukuman .

Mengapa Ancaman “Sunat” Tidak Efektif untuk Anak?

Dalam dunia psikologi anak, menakuti bukanlah metode yang disarankan untuk membangun kedisiplinan atau keberanian. Menurut psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi, anak yang menurut karena rasa takut sebenarnya hanya mencari rasa aman sesaat, bukan karena ia memahami pentingnya perintah dari Ayah dan Bunda .

Ketika Ayah atau Bunda mengancam dengan gambaran sunat yang menyakitkan, otak anak akan merekam ini sebagai sebuah trauma. Dampak jangka panjangnya bisa sangat serius, seperti menurunnya rasa percaya diri, anak menjadi penakut, hingga munculnya fobia terhadap hal-hal yang berbau medis atau jarum suntik .

Lebih parahnya lagi, jika anak sudah terlanjur trauma karena ancaman, kepercayaan anak terhadap Ayah dan Bunda bisa runtuh. Suatu hari nanti ketika mereka tahu bahwa sunat sebenarnya tidak sesusah yang dibayangkan, mereka akan merasa dibohongi .

Cara Bijak Menjelaskan Sunat Tanpa Menakut-nakuti

Para ahli sepakat bahwa kunci sukses anak mau sunat adalah komunikasi yang lembut dan jujur. Jangan menambah beban psikologisnya. Berikut adalah langkah yang bisa Ayah dan Bunda praktikkan di rumah:

1. Fokus pada Manfaat Positif, Bukan Rasa Sakitnya

Alihkan pembicaraan dari rasa sakit ke manfaat kesehatan. Jelaskan pada anak bahwa sunat membuat tubuh lebih bersih, terhindar dari kuman, dan lebih sehat .

Contoh kalimat:

“Nak, kalau sudah sunat, penis kamu lebih mudah dibersihkan, jadi nggak gampang kemasukan kotoran. Tubuh kamu jadi lebih kuat.”

2. Validasi Perasaan Takut Mereka

Jangan pernah bilang “Ah, itu nggak sakit kok” atau “Jangan cengeng!”. Itu adalah bentuk lain dari tekanan. Lebih baik akui perasaan mereka. Psikolog Firesta Farizal menyatakan bahwa orang tua harus menjadi figur yang dipercaya .

Contoh kalimat:

“Bunda tahu, Kamu pasti sedikit deg-degan ya? Wajar kok, banyak juga anak lain yang merasa gitu. Tapi Bunda akan nemenin kamu terus.”

3. Hindari Gambaran Visual yang Brutal

Jangan ceritakan secara detail proses “gunting” atau “potong”. Cukup jelaskan secara sederhana bahwa itu hanya memotong kulit kecil yang berlebih, bukan memotong organ vital .

4. Gunakan Teknologi Modern sebagai Ujung Tombak

Karena artikel ini memiliki konteks kekinian, beri tahu anak bahwa zaman sekarang sunat itu mudah. Kini banyak klinik yang menggunakan metode painless (tanpa rasa sakit) atau teknik hypnokhitan yang membuat anak rileks seperti sedang tertidur, tanpa jarum suntik yang menakutkan .

Membangun Keberanian, Bukan Ketakutan

Tugas Ayah dan Bunda adalah menjadi safe haven (tempat berlindung yang aman). Pola asuh tanpa kekerasan dan tanpa tekanan justru membuat anak lebih kuat dan percaya diri . Jika anak merasa didukung, proses sunat akan terasa seperti petualangan kecil yang seru, bukan sebuah momok yang menakutkan.

Jadi, mulai sekarang, mari kita hentikan ancaman sunat. Ajak anak diskusi, beri pelukan, dan katakan bahwa Ayah serta Bunda bangga padanya. Anak yang siap mental akan lebih kooperatif, proses sunat pun lancar, dan silaturahmi tetap hangat tanpa ada rasa sakit hati akibat ancaman.

Sumber Referensi:

  1. KlikDokter. (2020). Waspada, Ini 5 Dampak Sering Menakuti Anak
  2. ANTARA News. (2017). Cara siapkan anak agar tak trauma disunat
  3. Captain Sunat. (2025). Cara Menjelaskan Sunat pada Anak Secara Lembut dan Bijak
  4. Hello Sehat. (2022). Efek Suka Menakut-nakuti Anak yang Tidak Disadari Orangtua
  5. Haibunda. (2017). Hypnokhitan Bantu Anak Lebih Berani Disunat

Bagikan :