Kelainan sistem reproduksi pria dapat terjadi sejak lahir maupun muncul ketika anak beranjak besar hingga dewasa. Kondisinya tidak selalu terlihat jelas, sehingga Ayah dan Bunda perlu mengenali perubahan pada penis, testis, skrotum, maupun saluran kemih.
Beberapa kelainan hanya membutuhkan pemantauan, tetapi ada juga yang perlu ditangani lebih awal untuk mencegah gangguan buang air kecil, fungsi seksual, kesuburan, atau masalah kesehatan lainnya.
Daftar Isi
ToggleJenis Kelainan Sistem Reproduksi Pria
Berikut beberapa kelainan yang cukup sering ditemukan:
1. Fimosis
Fimosis adalah kondisi ketika kulup penis sulit atau tidak dapat ditarik ke belakang untuk membuka kepala penis. Pada anak kecil, kondisi ini bisa merupakan bagian dari perkembangan normal dan tidak selalu membutuhkan tindakan.
Jika fimosis menimbulkan nyeri, infeksi berulang, sulit buang air kecil atau masalah lainnya, dokter dapat memberikan terapi sesuai penyebabnya. Penanganannya dapat berupa obat oles tertentu, perawatan khusus, dan pada kasus tertentu tindakan operasi.
2. Hipospadia
Hipospadia merupakan kelainan bawaan ketika lubang uretra tidak berada di ujung kepala penis, tetapi berada di bagian bawah penis. Posisi lubang dapat berbeda-beda, mulai dari dekat ujung penis hingga bagian yang lebih bawah.
Dokter akan menilai posisi lubang uretra, bentuk penis, ukuran penis dan ada tidaknya penis melengkung. Pada kondisi tertentu, hipospadia ditangani dengan operasi rekonstruksi, umumnya pada usia anak.
Penting: anak dengan hipospadia sebaiknya diperiksa dokter sebelum dilakukan sunat, karena kulit kulup dapat dibutuhkan dalam prosedur perbaikan.
3. Testis Tidak Turun
Testis tidak turun atau undescended testis adalah kondisi ketika salah satu atau kedua testis tidak berada di dalam skrotum.
Kondisi ini perlu diperiksa karena testis yang tidak berada di posisi normal dalam waktu lama dapat berkaitan dengan gangguan kesuburan dan peningkatan risiko kanker testis di kemudian hari. Pedoman European Association of Urology merekomendasikan penanganan dimulai sekitar usia 6 bulan dan posisi testis sebaiknya sudah dikoreksi paling lambat sekitar 18 bulan.
Penanganan utamanya adalah operasi untuk menempatkan testis ke dalam skrotum, yang disebut orkidopeksi.
4. Varikokel
Varikokel adalah pelebaran pembuluh darah di sekitar testis. Pada sebagian anak dan remaja, kondisi ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman atau berkaitan dengan perkembangan testis dan kesuburan.
Tidak semua varikokel membutuhkan operasi. Dokter biasanya mempertimbangkan usia, gejala, ukuran testis dan hasil pemeriksaan sebelum menentukan penanganan.
5. Hidrokel
Hidrokel terjadi ketika terdapat penumpukan cairan di sekitar testis sehingga skrotum terlihat membesar. Pada bayi, sebagian hidrokel dapat membaik dengan sendirinya sehingga dokter mungkin hanya melakukan pemantauan.
Jika menetap atau berkaitan dengan kondisi lain, dokter dapat mempertimbangkan tindakan operasi.
6. Torsio Testis
Torsio testis terjadi ketika testis berputar sehingga aliran darah menuju testis terganggu. Gejalanya dapat berupa nyeri testis yang muncul tiba-tiba, pembengkakan skrotum, mual atau muntah.
Ini bukan kondisi yang sebaiknya ditunggu. Torsio testis merupakan kegawatdaruratan urologi dan membutuhkan penanganan segera. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang mempertahankan jaringan testis.
Bagaimana Kelainan Sistem Reproduksi Pria Diperiksa?
Pemeriksaan biasanya dimulai dari wawancara mengenai keluhan dan riwayat kesehatan, kemudian dilanjutkan pemeriksaan fisik. Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan seperti USG, pemeriksaan hormon, pemeriksaan genetik atau analisis sperma pada pria yang sudah dewasa.
Pada masalah kesuburan pria, evaluasi dapat mencakup pemeriksaan sperma untuk melihat jumlah, pergerakan dan bentuk sperma. Penyebabnya bisa berasal dari testis, gangguan hormonal, kelainan genetik maupun gangguan saluran reproduksi.
Kapan Ayah dan Bunda Perlu Membawa Anak ke Dokter?
Ayah dan Bunda sebaiknya tidak menunda pemeriksaan jika menemukan:
- Salah satu atau kedua testis tidak teraba di skrotum.
- Lubang penis terlihat tidak berada di ujung kepala penis.
- Penis tampak melengkung secara tidak normal.
- Anak kesulitan atau merasa sakit ketika buang air kecil.
- Kulup menyebabkan nyeri atau infeksi berulang.
- Skrotum tiba-tiba membesar atau terasa sangat nyeri.
- Terdapat benjolan atau perubahan yang tidak biasa pada testis.
Khusus nyeri testis yang muncul mendadak dan hebat, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan karena salah satu penyebabnya dapat berupa torsio testis yang membutuhkan tindakan cepat.
Apakah Semua Kelainan Harus Dioperasi?
Tidak. Pengobatan bergantung pada jenis kelainan, usia, tingkat keparahan, gejala dan dampaknya terhadap fungsi reproduksi maupun saluran kemih.
Sebagian kondisi cukup dipantau secara berkala, sementara kondisi lain membutuhkan obat atau tindakan operasi. Karena itu, Ayah dan Bunda sebaiknya tidak mencoba mengobati kelainan pada organ reproduksi anak sendiri sebelum mengetahui penyebabnya.
Baca juga: Tips Aman Ajak Anak Beraktivitas di Taman Bermain
Kesimpulan
Kelainan sistem reproduksi pria dapat berupa fimosis, hipospadia, testis tidak turun, varikokel, hidrokel hingga torsio testis. Penanganannya berbeda-beda dan tidak semuanya membutuhkan operasi.
Yang paling penting, Ayah dan Bunda perlu mengenali perubahan pada organ reproduksi anak dan melakukan pemeriksaan jika terdapat keluhan atau bentuk yang tidak biasa. Diagnosis lebih awal dapat membantu dokter menentukan penanganan yang sesuai dan, pada kondisi tertentu, membantu menjaga fungsi reproduksi anak di masa depan.




