Berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran dan cara yang sesuai dengan kemampuan anak. Tidak semua anak dapat menyampaikan keinginan atau perasaannya melalui kata-kata. Sebagian anak mungkin lebih mudah berkomunikasi melalui gestur, ekspresi wajah, gambar, tulisan, bahasa isyarat, atau alat bantu komunikasi.
Karena itu, Ayah dan Bunda tidak perlu memaksakan satu cara komunikasi. Yang paling penting adalah memahami bagaimana anak menerima dan menyampaikan informasi.
Daftar Isi
ToggleMengapa Cara Berkomunikasi dengan Anak Berkebutuhan Khusus Perlu Disesuaikan?
Setiap anak memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda. Anak dengan autisme, gangguan pendengaran, hambatan intelektual, gangguan perkembangan bahasa, atau kondisi lainnya dapat memiliki cara berkomunikasi yang tidak sama.
UNICEF menekankan bahwa anak dengan disabilitas tetap dapat berkomunikasi meskipun tidak selalu menggunakan bahasa verbal. Orang dewasa perlu mencari tahu cara komunikasi yang paling biasa digunakan anak dan tidak langsung menganggap anak tidak mampu berkomunikasi.
Artinya, tugas Ayah dan Bunda bukan hanya mengajarkan anak untuk berbicara, tetapi juga belajar memahami cara anak menyampaikan pesan.
1. Gunakan Kalimat Pendek dan Jelas
Hindari memberikan terlalu banyak instruksi sekaligus. Sampaikan satu pesan dalam satu waktu.
Contohnya:
Kurang efektif:
“Adik cepat pakai sepatu, nanti kita pergi ke dokter, jangan lama-lama karena Ayah sudah menunggu.”
Lebih sederhana:
“Adik, pakai sepatu ya.”
Setelah anak selesai, Ayah dan Bunda dapat melanjutkan dengan instruksi berikutnya.
Cara ini dapat membantu anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses informasi. Pada anak autistik, penggunaan kalimat singkat, jelas dan spesifik juga dapat membantu komunikasi sehari-hari.
2. Berikan Waktu untuk Anak Menjawab
Jangan terburu-buru mengulang pertanyaan atau langsung menjawab sendiri.
Setelah bertanya, berikan jeda agar anak memiliki waktu untuk memahami pertanyaan dan menyusun respons. Waktu yang dibutuhkan setiap anak tentu berbeda.
Jika anak belum menjawab, Ayah dan Bunda dapat mencoba pertanyaan yang lebih sederhana atau menggunakan gambar dan gestur sebagai bantuan.
3. Perhatikan Bahasa Tubuh Anak
Komunikasi tidak selalu berbentuk kata-kata. Ekspresi wajah, gerakan tangan, arah pandangan, suara, atau perubahan perilaku juga dapat menjadi cara anak menyampaikan sesuatu.
Misalnya, anak menjadi gelisah ketika berada di tempat yang ramai. Hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa anak merasa tidak nyaman dengan suara atau lingkungan di sekitarnya.
UNICEF menjelaskan bahwa komunikasi dapat berlangsung secara verbal maupun nonverbal, termasuk melalui ekspresi wajah, gerakan tubuh, gambar dan berbagai bentuk komunikasi lainnya.
4. Jangan Menganggap Anak Tidak Mengerti
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah berbicara tentang anak seolah-olah anak tidak ada di tempat tersebut.
Jika sedang membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan anak, tetap libatkan anak dalam percakapan sesuai kemampuannya.
Ayah dan Bunda dapat bertanya langsung:
“Adik mau yang ini atau yang itu?”
Berikan pilihan sederhana sehingga anak mempunyai kesempatan untuk menunjukkan keinginannya.
UNICEF juga merekomendasikan agar, jika memungkinkan, orang dewasa berbicara langsung kepada anak berkebutuhan khusus, bukan hanya kepada orang yang mendampinginya.
5. Gunakan Gambar atau Alat Bantu Komunikasi
Jika anak kesulitan menyampaikan sesuatu secara verbal, gambar dapat menjadi pilihan.
Ayah dan Bunda bisa menggunakan gambar untuk menunjukkan:
- Makanan
- Minuman
- Pakaian
- Toilet
- Sekolah
- Dokter
- Rumah
- Aktivitas bermain
- Perasaan anak
Pada beberapa anak, alat bantu komunikasi alternatif dan augmentatif atau AAC (Augmentative and Alternative Communication) juga dapat digunakan untuk membantu menyampaikan kebutuhan dan keinginan. Bentuknya dapat berupa gambar, simbol, tulisan, perangkat digital, hingga metode komunikasi lainnya.
Penggunaan alat bantu sebaiknya disesuaikan dengan kondisi anak dan, bila diperlukan, didampingi tenaga profesional seperti terapis wicara.
6. Hindari Bahasa yang Membingungkan
Gunakan bahasa yang konkret dan mudah dipahami.
Terutama pada anak yang mengalami kesulitan memahami bahasa atau anak autistik, kalimat seperti “sebentar lagi”, “jangan bikin Ayah naik darah” atau “kita pergi jauh” dapat memiliki arti yang berbeda dari maksud orang dewasa.
Lebih baik gunakan informasi yang spesifik.
Contohnya:
“Kita pergi ke dokter setelah makan.”
bukan:
“Nanti kita pergi.”
Pendekatan komunikasi yang konkret dan menghindari ungkapan kiasan juga direkomendasikan dalam panduan komunikasi untuk anak autistik.
7. Kurangi Gangguan Saat Berbicara
Lingkungan yang terlalu ramai dapat membuat sebagian anak sulit berkonsentrasi atau memahami informasi.
Jika Ayah dan Bunda ingin menyampaikan sesuatu yang penting, pilih tempat yang lebih tenang. Kurangi suara televisi, musik, keramaian atau gangguan lain jika memang membuat anak tidak nyaman.
Pada anak autistik, pengaturan cahaya, suara dan lingkungan dapat membantu anak merasa lebih nyaman dalam berkomunikasi.
8. Jangan Memaksa Kontak Mata
Kontak mata bukan satu-satunya tanda bahwa anak sedang mendengarkan.
Jika anak tidak melakukan kontak mata, bukan berarti ia tidak memperhatikan. Fokus utama sebaiknya pada apakah anak menerima dan memahami informasi yang diberikan.
Ayah dan Bunda dapat memperhatikan respons anak secara keseluruhan, bukan hanya dari kontak mata.
9. Dengarkan Sampai Anak Selesai
Anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk berbicara, menunjuk, menggunakan gestur atau menyusun kalimat.
Jangan langsung memotong atau menyelesaikan perkataannya.
Tunjukkan bahwa Ayah dan Bunda sedang mendengarkan. Jika belum yakin dengan maksud anak, konfirmasi kembali dengan pertanyaan sederhana.
Misalnya:
“Adik mau minum?”
Kemudian tunggu responsnya.
UNICEF menyarankan agar orang dewasa bersabar, tidak membuat asumsi dan memastikan kembali bahwa pesan yang disampaikan anak sudah dipahami dengan benar.
10. Berikan Pilihan Sederhana
Memberikan pilihan dapat membantu anak belajar menyampaikan keinginan.
Contohnya:
“Mau baju biru atau merah?”
“Mau apel atau pisang?”
“Mau main mobil atau bola?”
Tidak perlu memberikan terlalu banyak pilihan. Dua pilihan sederhana biasanya lebih mudah diproses.
Selain membantu komunikasi, cara ini juga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sesuai kemampuannya.
11. Kenali Pemicu Anak Sulit Berkomunikasi
Ada kalanya anak tiba-tiba menangis, berteriak, menutup telinga atau menunjukkan perilaku tertentu. Jangan langsung menyimpulkan bahwa anak sedang “nakal”.
Perubahan perilaku dapat menjadi cara anak menyampaikan bahwa dirinya merasa tidak nyaman, kewalahan atau membutuhkan sesuatu.
Pada anak autistik misalnya, kondisi yang terlalu ramai, perubahan rutinitas atau lingkungan yang tidak nyaman dapat memicu stres dan perilaku tertentu.
Ayah dan Bunda dapat mencoba mencari tahu apa yang terjadi sebelum perubahan perilaku tersebut muncul.
12. Gunakan Komunikasi yang Konsisten
Jika satu kata digunakan untuk aktivitas tertentu, usahakan Ayah dan Bunda menggunakan kata yang sama secara konsisten.
Misalnya, jika ingin mengajak anak ke kamar mandi, gunakan istilah yang sama setiap kali. Konsistensi membantu anak menghubungkan kata, simbol atau gestur dengan aktivitas tertentu.
Namun, kemampuan anak tetap menjadi pertimbangan utama. Tidak perlu memaksakan anak menggunakan kata tertentu jika ada cara komunikasi lain yang lebih efektif baginya.
Kapan Perlu Meminta Bantuan Profesional?
Ayah dan Bunda dapat berkonsultasi dengan dokter anak, psikolog, terapis wicara atau tenaga profesional terkait apabila mengalami kesulitan memahami komunikasi anak.
Konsultasi terutama bermanfaat ketika anak mengalami hambatan komunikasi yang mengganggu aktivitas sehari-hari, sulit menyampaikan kebutuhan dasar, atau terjadi perubahan kemampuan komunikasi yang sebelumnya sudah dimiliki.
Tenaga profesional dapat membantu menilai kebutuhan anak dan menentukan strategi komunikasi yang lebih sesuai. UNICEF juga menyebutkan bahwa speech and language therapist serta tenaga spesialis lainnya dapat membantu orang tua mengembangkan interaksi dan komunikasi dengan anak berkebutuhan khusus.
Yang Terpenting, Dengarkan Anak
Cara berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khusus bukan tentang mencari satu metode yang berlaku untuk semua anak. Setiap anak memiliki kemampuan, karakter dan cara berkomunikasi yang berbeda.
Ayah dan Bunda dapat memulainya dengan berbicara secara sederhana, memberikan waktu untuk merespons, memperhatikan komunikasi nonverbal, menggunakan bantuan visual bila diperlukan dan tidak membuat asumsi terhadap kemampuan anak.
Komunikasi yang baik bukan hanya membuat anak memahami perkataan orang tua. Lebih dari itu, komunikasi memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan kebutuhan, pilihan, perasaan dan pendapatnya.
Kesimpulan
Berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran, konsistensi dan kemauan untuk memahami cara anak berkomunikasi. Gunakan kalimat sederhana, berikan waktu untuk merespons, perhatikan bahasa tubuh dan gunakan alat bantu jika diperlukan.
Yang tidak kalah penting, jangan hanya meminta anak belajar memahami cara komunikasi orang dewasa. Ayah dan Bunda juga perlu belajar memahami cara anak menyampaikan pesan.
Referensi dan Sumber
- UNICEF – Tips on Communicating with Children with Disabilities. UNICEF
- UNICEF – Caring for Children with Disabilities. UNICEF: Caring for Children with Disabilities
- UNICEF – How to Communicate Effectively with Your Young Child. UNICEF: How to Communicate Effectively with Your Young Child
- UNICEF – Guidance on Disability Inclusive and Accessible Child Friendly Spaces in Humanitarian Action. UNICEF Guidance on Disability Inclusion
- NHS – Supporting an Autistic Child. NHS: Supporting an Autistic Child
- NHS – Autism: A Guide for Parents and Carers Following Diagnosis. NHS Autism Guide for Parents and Carers
- UNICEF – Care for Child Development, pendekatan berbasis bukti untuk mendukung perkembangan dan pengasuhan responsif anak. UNICEF: Care for Child Development




