Masalah Kesehatan Penis yang Sering Terjadi dan Cara Menanganinya

Masalah Kesehatan Penis yang Sering Terjadi dan Cara Menanganinya

Masalah kesehatan penis bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Pada anak laki-laki, beberapa keluhan yang cukup sering ditemukan berkaitan dengan kulup, kebersihan, iritasi, infeksi, atau gangguan saat buang air kecil.

Ayah dan Bunda tidak perlu langsung panik ketika melihat perubahan pada penis anak. Namun, keluhan seperti nyeri, bengkak, keluar cairan, sulit buang air kecil, atau perubahan warna tertentu perlu diperhatikan karena bisa membutuhkan pemeriksaan dokter.

Berikut beberapa masalah kesehatan penis yang sering terjadi dan cara menanganinya.

1. Fimosis

Fimosis adalah kondisi ketika kulup penis sulit atau tidak dapat ditarik ke belakang untuk membuka kepala penis.

Pada bayi dan anak kecil, kulup yang belum dapat ditarik sepenuhnya sebenarnya dapat merupakan kondisi normal. Kulup secara alami akan terpisah dari kepala penis seiring pertumbuhan. Karena itu, Ayah dan Bunda tidak dianjurkan menarik kulup anak secara paksa karena dapat menyebabkan luka, perdarahan, dan robekan kulit.

Fimosis perlu diperiksa apabila disertai:

  • Nyeri ketika buang air kecil
  • Aliran urine sangat lemah
  • Kulup sering membengkak
  • Perdarahan
  • Infeksi berulang
  • Nyeri ketika penis ereksi pada anak yang lebih besar

Penanganannya bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan. Dokter dapat mempertimbangkan perawatan tertentu, termasuk obat oles kortikosteroid pada kondisi tertentu atau tindakan medis bila memang diperlukan.

2. Balanitis

Balanitis adalah peradangan pada kepala penis. Kondisi ini dapat menyebabkan kepala penis terlihat merah, bengkak, terasa gatal atau nyeri.

Pada anak, balanitis dapat berkaitan dengan iritasi, kebersihan yang kurang tepat, infeksi, atau penggunaan produk yang mengandung bahan iritatif. Sabun, bubble bath, dan produk berpewangi dapat membuat kulit penis lebih mudah mengalami iritasi.

Gejalanya dapat berupa:

  • Kepala penis kemerahan
  • Bengkak
  • Gatal atau terasa perih
  • Nyeri ketika buang air kecil
  • Bau tidak sedap
  • Cairan atau kotoran dari bawah kulup

Penanganan harus disesuaikan dengan penyebabnya. Jangan sembarangan mengoleskan obat, terutama antibiotik atau krim antijamur, tanpa mengetahui penyebab peradangannya.

Untuk menjaga kebersihan, penis anak dapat dibersihkan menggunakan air hangat. Jika kulup belum dapat ditarik secara alami, jangan dipaksakan.

3. Parafimosis

Berbeda dengan fimosis, parafimosis terjadi ketika kulup sudah ditarik ke belakang tetapi tidak dapat dikembalikan menutupi kepala penis.

Kondisi ini dapat menyebabkan kulup dan kepala penis membengkak. Jika dibiarkan, aliran darah ke kepala penis dapat terganggu.

Parafimosis termasuk kondisi yang membutuhkan penanganan medis segera. Ayah dan Bunda sebaiknya membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila kulup tersangkut di belakang kepala penis, terutama jika muncul pembengkakan, nyeri hebat, atau perubahan warna menjadi kemerahan hingga keunguan.

4. Iritasi pada Penis

Kulit penis cukup sensitif. Penggunaan sabun, sampo, bubble bath, tisu basah tertentu, atau produk berpewangi dapat menyebabkan iritasi.

Gejalanya biasanya berupa kemerahan, gatal, rasa perih, atau kulit terasa tidak nyaman.

Jika iritasi ringan, hentikan penggunaan produk yang dicurigai sebagai penyebab dan bersihkan area penis dengan air. Pada anak kecil, hindari penggunaan sabun langsung pada kepala penis karena dapat menyebabkan iritasi.

Jika keluhan tidak membaik atau justru semakin parah, pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan tidak ada infeksi.

5. Nyeri atau Perih Saat Buang Air Kecil

Rasa sakit atau perih ketika buang air kecil bukan keluhan yang sebaiknya diabaikan.

Pada anak laki-laki, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan iritasi pada lubang penis, infeksi pada kulup, atau infeksi saluran kemih. American Academy of Pediatrics menyarankan pemeriksaan bila anak mengalami nyeri ketika buang air kecil, karena penyebabnya perlu diketahui.

Ayah dan Bunda perlu lebih waspada apabila nyeri buang air kecil disertai:

  • Demam
  • Urine berdarah
  • Anak sulit buang air kecil
  • Urine hanya keluar sedikit atau menetes
  • Nyeri yang semakin berat
  • Anak terlihat sangat lemas atau sakit

Dalam kondisi tersebut, anak sebaiknya segera diperiksa oleh tenaga medis.

6. Penis Bengkak dan Mengeluarkan Cairan

Pembengkakan yang disertai cairan dari penis dapat menjadi tanda adanya peradangan atau infeksi.

Cairan yang keluar dari penis tidak selalu berarti penyebabnya sama. Pada anak, dokter perlu melihat kondisi penis, kulup, pola buang air kecil, serta gejala lain sebelum menentukan penanganan.

Jika cairan berupa nanah atau darah, atau disertai rasa sakit dan demam, jangan menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pemeriksaan. HealthyChildren.org memasukkan cairan bernanah atau berdarah dari ujung penis sebagai kondisi yang perlu mendapat perhatian medis.

7. Infeksi Jamur

Infeksi jamur dapat menyebabkan peradangan pada kepala penis atau balanitis. Gejalanya dapat berupa kemerahan, rasa gatal atau terbakar, perubahan warna kulit, dan terkadang muncul cairan berwarna putih.

Pengobatan tidak selalu sama pada setiap orang. Dokter perlu memastikan apakah keluhan memang disebabkan oleh jamur atau justru iritasi maupun infeksi lain.

Karena itu, sebaiknya Ayah dan Bunda tidak langsung menggunakan obat antijamur tanpa pemeriksaan, terutama pada anak.

8. Smegma atau Kotoran Putih di Bawah Kulup

Tidak semua zat berwarna putih di bawah kulup merupakan nanah.

Smegma merupakan kumpulan sel kulit mati, minyak, dan cairan tubuh yang dapat terkumpul di bawah kulup. Pada anak yang belum disunat, keberadaan smegma dalam jumlah tertentu dapat merupakan hal yang normal.

Ayah dan Bunda cukup menjaga kebersihan penis dengan cara yang lembut. Jangan memaksa kulup terbuka hanya untuk membersihkan bagian dalamnya.

Jika kulup sudah dapat ditarik secara alami, bagian bawah kulup dapat dibilas menggunakan air dan setelah selesai kulup perlu dikembalikan ke posisi semula.

9. Penis Tersembunyi atau Buried Penis

Pada sebagian anak, penis dapat terlihat seperti masuk ke dalam jaringan kulit atau lemak di sekitarnya. Kondisi ini dikenal sebagai buried penis atau penis tersembunyi.

Kondisi tersebut dapat terlihat lebih jelas pada anak dengan jaringan lemak berlebih di sekitar pangkal penis. Pada beberapa kasus, kepala penis sulit terlihat sehingga kebersihan dan proses buang air kecil dapat menjadi masalah.

Penanganannya tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan penampilan. Dokter perlu melakukan pemeriksaan untuk melihat kondisi penis dan jaringan di sekitarnya.

10. Infeksi Menular Seksual pada Remaja dan Dewasa

Pada remaja yang sudah aktif secara seksual maupun orang dewasa, masalah penis juga dapat berkaitan dengan infeksi menular seksual (IMS).

Beberapa IMS seperti gonore, klamidia, sifilis, herpes genital, dan HPV dapat menimbulkan gejala pada area genital. Namun, sebagian IMS juga dapat tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang bisa tidak menyadari dirinya mengalami infeksi.

Gejala yang perlu diperiksa antara lain:

  • Luka atau lepuhan pada penis
  • Kutil di area genital
  • Cairan yang keluar dari penis
  • Nyeri atau rasa terbakar ketika buang air kecil
  • Ruam di area genital

Jika ada kemungkinan paparan IMS, pemeriksaan dan tes yang sesuai lebih penting daripada mencoba mengobati sendiri.

Kapan Masalah Penis Harus Segera Diperiksa?

Ayah dan Bunda sebaiknya segera membawa anak ke dokter apabila terdapat:

  • Tidak bisa buang air kecil
  • Penis atau kulup membengkak hebat
  • Kulup tersangkut di belakang kepala penis
  • Perubahan warna kepala penis menjadi kebiruan atau keunguan
  • Nyeri hebat
  • Perdarahan
  • Nanah atau cairan berdarah
  • Demam disertai keluhan pada penis
  • Luka yang tidak kunjung sembuh

Parafimosis dan kondisi yang menyebabkan aliran urine terhambat membutuhkan perhatian lebih cepat karena dapat menimbulkan komplikasi bila tidak ditangani.

Cara Menjaga Kesehatan Penis Anak

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu menjaga kesehatan penis anak:

  1. Bersihkan penis secara rutin menggunakan air.
  2. Jangan menarik kulup secara paksa.
  3. Hindari sabun atau produk berpewangi pada area penis yang sensitif.
  4. Ganti popok secara rutin pada bayi.
  5. Ajarkan anak menjaga kebersihan area genital sejak mulai mandiri.
  6. Perhatikan perubahan saat anak buang air kecil.
  7. Jangan memberikan obat tanpa mengetahui penyebab keluhannya.
  8. Periksakan anak jika keluhan menetap atau semakin berat.

Pada anak yang belum disunat, prinsip terpenting adalah jangan memaksa kulup ditarik. Kulup akan mengalami proses pemisahan secara alami pada waktunya. Setelah kulup dapat ditarik dengan mudah, anak dapat diajarkan membersihkan bagian bawah kulup dan mengembalikannya ke posisi semula.

Baca juga: Ciri Penis Sehat yang Perlu Diperhatikan dan Kapan Harus Berkonsultasi

Kesimpulan

Masalah kesehatan penis yang sering terjadi antara lain fimosis, balanitis, parafimosis, iritasi, infeksi, serta gangguan saat buang air kecil. Sebagian kondisi dapat ditangani dengan perawatan sederhana, tetapi beberapa lainnya membutuhkan pemeriksaan dan tindakan medis.

Ayah dan Bunda tidak perlu merasa malu ketika anak mengalami masalah pada penis. Justru, pemeriksaan lebih awal dapat membantu mengetahui penyebab keluhan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Jika anak mengalami nyeri, bengkak, keluar cairan, perdarahan, sulit buang air kecil, atau kulup tersangkut, sebaiknya konsultasikan langsung dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Bagikan :