Apakah hipospadia berbahaya pada anak? Hipospadia tidak selalu menyebabkan masalah berat, tetapi kondisi ini perlu diperiksa oleh dokter karena tingkat keparahannya berbeda pada setiap anak.
Pada kasus ringan, anak bisa tetap buang air kecil dengan baik dan tidak memerlukan operasi. Namun, pada kondisi tertentu, hipospadia dapat menyebabkan gangguan aliran urine, penis melengkung, hingga masalah fungsi seksual ketika dewasa.
Daftar Isi
ToggleApa Itu Hipospadia?
Hipospadia adalah kelainan bawaan pada penis ketika lubang uretra tidak berada di ujung kepala penis seperti biasanya. Lubang tersebut dapat berada di bagian bawah kepala penis, batang penis, bahkan lebih dekat ke pangkal penis atau skrotum.
Selain posisi lubang urine, hipospadia dapat disertai bentuk kulup yang tidak sempurna dan penis yang melengkung ke bawah atau disebut chordee. Kondisi ini umumnya sudah dapat dikenali sejak bayi lahir.
Apakah Hipospadia Berbahaya?
Tidak semua hipospadia berbahaya. Tingkat risikonya sangat bergantung pada lokasi lubang uretra, derajat kelengkungan penis dan kondisi jaringan di sekitarnya.
Pada hipospadia ringan, anak sering kali masih dapat buang air kecil dengan normal. Bahkan, sebagian kasus tidak membutuhkan operasi apabila tidak terdapat kelengkungan penis atau gangguan fungsi yang berarti.
Sebaliknya, hipospadia yang lebih berat dapat menimbulkan beberapa masalah jika tidak ditangani dengan tepat.
Risiko Hipospadia pada Anak
1. Arah urine tidak normal
Posisi lubang uretra yang berada di bawah penis dapat membuat aliran urine menyebar atau tidak mengarah lurus. Pada beberapa anak, kondisi ini dapat menyulitkan saat belajar buang air kecil sendiri.
Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan ketika posisi lubang uretra cukup jauh dari ujung penis.
2. Penis dapat melengkung
Sebagian anak dengan hipospadia mengalami penis melengkung ke bawah. Kelengkungan ringan mungkin tidak menimbulkan masalah, tetapi kelengkungan yang cukup berat dapat memengaruhi fungsi penis ketika anak dewasa.
Pedoman European Association of Urology (EAU) menyebutkan bahwa kelengkungan sekitar 30 derajat atau lebih umumnya perlu dipertimbangkan untuk dikoreksi.
3. Gangguan saat buang air kecil
Pada kasus tertentu, hipospadia dapat menyebabkan pancaran urine menyebar, menyulitkan anak mengarahkan urine, atau menimbulkan gangguan aliran urine.
Karena itu, Ayah dan Bunda sebaiknya tidak hanya memperhatikan bentuk penis, tetapi juga melihat apakah anak mengalami kesulitan ketika buang air kecil.
4. Masalah fungsi seksual saat dewasa
Hipospadia yang cukup berat dan tidak ditangani dapat berkaitan dengan kelengkungan penis, nyeri saat berhubungan seksual, gangguan ejakulasi atau kesulitan penetrasi.
Meski demikian, EAU menyebutkan bahwa secara umum fungsi seksual setelah penanganan hipospadia pada masa anak tetap baik. Risiko masalah lebih besar pada hipospadia berat dan anak yang membutuhkan beberapa kali operasi.
5. Risiko komplikasi setelah operasi
Jika hipospadia membutuhkan operasi, tindakan tersebut juga memiliki risiko. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain fistula uretra, penyempitan lubang uretra, penyempitan uretra, gangguan penyembuhan luka dan penis kembali melengkung.
Risiko komplikasi cenderung lebih tinggi pada hipospadia yang berat dibandingkan kasus distal atau ringan. Karena itu, pemilihan teknik operasi dan pengalaman dokter menjadi bagian penting dalam penanganannya.
Apakah Semua Anak dengan Hipospadia Harus Operasi?
Tidak selalu.
Keputusan operasi ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing anak. Dokter akan menilai lokasi lubang uretra, bentuk dan ukuran penis, ada tidaknya kelengkungan, serta apakah terdapat gangguan ketika buang air kecil.
Pada hipospadia ringan dengan lubang uretra yang masih dekat dengan posisi normal dan tanpa kelengkungan bermakna, operasi mungkin tidak memberikan manfaat yang cukup besar.
Jika operasi memang diperlukan, pedoman EAU menyebutkan bahwa perbaikan primer umumnya dilakukan pada usia 6–18 bulan. Tujuannya bukan hanya memindahkan posisi lubang urine, tetapi juga meluruskan penis bila diperlukan dan membentuk saluran uretra yang berfungsi baik.
Jangan Sunat Dulu Jika Anak Diduga Hipospadia
Ini bagian yang penting untuk Ayah dan Bunda.
Jika sejak lahir terlihat lubang urine tidak berada di ujung penis atau bentuk penis tampak berbeda, jangan langsung melakukan sunat sebelum anak diperiksa dokter.
Kulup dapat dibutuhkan sebagai jaringan untuk proses rekonstruksi pada operasi hipospadia. Mayo Clinic dan Children’s Hospital of Philadelphia juga menyarankan agar anak dengan dugaan hipospadia tidak langsung disunat sebelum mendapatkan evaluasi dari dokter yang berpengalaman menangani kondisi tersebut.
Kapan Anak dengan Hipospadia Perlu Diperiksa?
Ayah dan Bunda sebaiknya membawa anak untuk diperiksa jika melihat:
- Lubang urine tidak berada di ujung penis.
- Pancaran urine menyebar atau sulit diarahkan.
- Penis tampak melengkung ke bawah.
- Kulup terlihat seperti hanya menutupi bagian atas penis.
- Anak mengalami kesulitan buang air kecil.
- Bentuk penis terlihat tidak biasa sejak lahir.
Pemeriksaan oleh dokter, terutama dokter urologi anak, diperlukan untuk menentukan apakah kondisi tersebut termasuk hipospadia dan seberapa berat kelainannya.
Bagaimana Penanganan Hipospadia?
Penanganan tergantung pada tingkat keparahan. Hipospadia ringan dapat dipantau, sedangkan kasus yang mengganggu fungsi biasanya membutuhkan rekonstruksi.
Operasi bertujuan membuat posisi lubang uretra lebih sesuai, meluruskan penis bila terdapat kelengkungan dan menghasilkan fungsi buang air kecil yang baik. Pada hipospadia yang lebih kompleks, dokter mungkin membutuhkan operasi bertahap.
Setelah operasi pun pemantauan tetap penting. Beberapa komplikasi dapat muncul bukan hanya segera setelah tindakan, tetapi juga beberapa tahun kemudian. EAU merekomendasikan tindak lanjut jangka panjang untuk memantau aliran urine, kemungkinan penyempitan uretra, kelengkungan yang kembali muncul, fungsi seksual dan kepuasan pasien.
Baca juga: Hipospadia pada Bayi: Kenali Gejala dan Penanganannya
Kesimpulan
Jadi, apakah hipospadia berbahaya pada anak? Jawabannya, tidak selalu. Hipospadia ringan dapat tidak menimbulkan gangguan berarti, sementara hipospadia yang lebih berat berisiko menyebabkan masalah buang air kecil, kelengkungan penis dan gangguan fungsi seksual di kemudian hari.
Yang paling penting, Ayah dan Bunda tidak perlu panik tetapi juga jangan mengabaikannya. Jika bentuk penis atau posisi lubang urine anak terlihat tidak normal sejak lahir, lakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum memutuskan sunat atau tindakan lainnya.
Referensi
- European Association of Urology (EAU) – EAU Guidelines on Paediatric Urology, Hypospadias, pembaruan pedoman 2026.
- Children’s Hospital of Philadelphia (CHOP) – Hypospadias, ditinjau 16 Desember 2025.
- Mayo Clinic – Hypospadias: Symptoms and Causes.
- Mayo Clinic – Hypospadias: Diagnosis and Treatment.
- EAU – Paediatric Urology: Transitional Urology, informasi mengenai tindak lanjut jangka panjang hipospadia.




