Risiko Tidak Sunat hingga Dewasa, Ketahui Dampaknya Sejak Dini

Risiko Tidak Sunat hingga Dewasa, Ketahui Dampaknya Sejak Dini

Sunat bukan hanya bagian dari tradisi atau ajaran agama. Dari sisi medis, sunat terbukti memberikan sejumlah manfaat bagi kesehatan pria sejak bayi hingga dewasa. Sebaliknya, tidak menjalani sunat hingga usia dewasa dapat meningkatkan risiko beberapa gangguan kesehatan, terutama jika kebersihan area genital kurang terjaga.

Karena itu, penting bagi Ayah dan Bunda memahami dampak jangka panjang apabila sunat terus ditunda.

Mengapa Pria yang Tidak Sunat Lebih Berisiko?

Kulup (preputium) yang menutupi kepala penis sebenarnya memiliki fungsi melindungi glans. Namun, pada sebagian orang, kulup dapat menjadi tempat menumpuknya sel kulit mati, minyak alami, dan bakteri yang membentuk smegma apabila kebersihan tidak dijaga dengan baik.

Penumpukan tersebut dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari infeksi ringan hingga penyakit yang lebih serius.

Risiko Tidak Sunat hingga Dewasa

1. Lebih Mudah Mengalami Infeksi

Pria yang tidak disunat memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi pada kepala penis (balanitis) maupun infeksi pada kulup (posthitis). Bila keduanya terjadi bersamaan, kondisi ini disebut balanoposthitis.

Gejala yang sering muncul meliputi:

  • Kemerahan pada kepala penis.
  • Bengkak.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Gatal.
  • Keluar cairan berbau.

Sebagian besar kasus dipicu oleh bakteri, jamur, atau kebersihan area genital yang kurang optimal.

2. Risiko Fimosis

Fimosis adalah kondisi ketika kulup tidak dapat ditarik ke belakang sehingga kepala penis sulit terlihat.

Pada bayi dan balita, kondisi ini masih tergolong normal. Namun bila terus berlanjut hingga remaja atau dewasa dan disertai keluhan, fimosis dapat menyebabkan:

  • Sulit membersihkan penis.
  • Nyeri saat ereksi.
  • Sulit buang air kecil.
  • Infeksi berulang.

Dalam beberapa kasus, dokter dapat menyarankan tindakan sunat sebagai penanganan yang efektif.

3. Parafimosis

Parafimosis terjadi ketika kulup yang sudah ditarik ke belakang tidak dapat kembali ke posisi semula.

Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis karena dapat menghambat aliran darah ke kepala penis. Jika tidak segera ditangani, jaringan penis berisiko mengalami kerusakan permanen.

4. Meningkatkan Risiko Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Walaupun ISK lebih sering terjadi pada perempuan, bayi laki-laki yang tidak disunat memiliki risiko ISK lebih tinggi dibandingkan bayi yang telah disunat.

Infeksi saluran kemih yang berulang dapat memengaruhi kesehatan ginjal apabila terlambat ditangani.

5. Risiko Penyakit Menular Seksual Lebih Tinggi

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sunat dapat membantu menurunkan risiko penularan beberapa infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV heteroseksual, HPV, herpes simpleks tipe 2 (HSV-2), dan sifilis.

Meski demikian, sunat bukan pengganti perilaku seksual yang aman. Penggunaan kondom dan hubungan seksual yang bertanggung jawab tetap menjadi cara utama untuk mencegah penularan penyakit.

6. Risiko Kanker Penis

Kanker penis memang tergolong langka, tetapi risikonya diketahui lebih tinggi pada pria yang mengalami fimosis kronis, infeksi berulang, serta kebersihan penis yang kurang baik.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa sunat pada usia dini dapat membantu menurunkan risiko terjadinya kanker penis di kemudian hari.

7. Gangguan Saat Berhubungan Intim

Tidak semua pria yang tidak disunat mengalami masalah saat berhubungan seksual. Namun pada kondisi tertentu, seperti fimosis atau infeksi berulang, hubungan intim dapat terasa nyeri, tidak nyaman, bahkan menimbulkan luka pada kulup.

Jika kondisi tersebut dibiarkan, kualitas hidup dan kesehatan reproduksi dapat ikut terganggu.

Apakah Sunat Masih Bisa Dilakukan Saat Dewasa?

Ya. Sunat dapat dilakukan pada usia berapa pun selama kondisi kesehatan pasien memungkinkan.

Pada pria dewasa, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi, fimosis, diabetes yang belum terkontrol, maupun kondisi medis lainnya.

Proses pemulihan pada orang dewasa umumnya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan anak-anak karena aktivitas harian dan proses penyembuhan jaringan yang berbeda.

Pilihan Metode Sunat Modern

Saat ini, banyak Ayah dan Bunda maupun pria dewasa memilih metode sunat modern karena prosesnya lebih nyaman dibandingkan teknik konvensional. Salah satunya adalah metode TeknoSealer yang digunakan di Alfatih Sunat Center.

Metode ini menggunakan teknologi electrosurgical unit untuk membantu meminimalkan perdarahan, tanpa jahitan, tanpa perban, serta memungkinkan pasien kembali beraktivitas ringan sesuai anjuran dokter setelah tindakan.

Kapan Sebaiknya Sunat Dilakukan?

Tidak ada usia yang benar-benar terlambat untuk sunat. Namun, berbagai organisasi kesehatan menyebutkan bahwa sunat sejak usia dini memberikan manfaat karena proses penyembuhan biasanya lebih cepat dan risiko komplikasi lebih rendah.

Apabila anak mengalami keluhan seperti fimosis, infeksi berulang, atau kesulitan menjaga kebersihan penis, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Kesimpulan

Sunat bukan sekadar tradisi, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan yang telah didukung berbagai penelitian. Tidak menjalani sunat hingga dewasa dapat meningkatkan risiko infeksi, fimosis, parafimosis, infeksi saluran kemih, penyakit menular seksual tertentu, hingga kanker penis pada kondisi tertentu.

Bagi Ayah dan Bunda, memahami manfaat sunat sejak dini dapat membantu mengambil keputusan terbaik demi kesehatan anak dalam jangka panjang.

Bagikan :