Bagi sebagian Ayah dan Bunda, malam hari sering kali menjadi “medan perang” kecil. Memaksa si kecil segera memejamkan mata sementara energinya tak kunjung habis, rasanya menguras kesabaran. Namun, pernahkah Ayah dan Bunda mencoba mengalihkan situasi tersebut dengan sebuah dongeng?
Aktivitas yang tampak sederhana ini ternyata tidak hanya berfungsi sebagai “obat tidur”. Banyak orang tua modern yang mungkin tidak menyadari bahwa di balik buku cerita bergambar itu, tersimpan manfaat kognitif dan psikologis yang luar biasa.
Berikut adalah 7 manfaat mendongeng sebelum tidur yang jarang diketahui, berdasarkan berbagai riset dan panduan anak usia dini.
1. Solusi Ampuh Atasi “Susah Tidur” (Evidence-Based)
Ini fakta yang jarang dibahas: mendongeng ternyata punya efek terapeutik medis. Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Pediatric Psychology (2004) membuktikan bahwa penggunaan social story atau cerita pengantar tidur mampu mengurangi resistensi tidur pada anak hingga 78% , serta menghilangkan masalah sering terbangun di malam hari .
Dongeng berfungsi sebagai rewarding social story yang menenangkan sistem saraf. Ketika Ayah dan Bunda membacakan cerita dengan intonasi lembut, anak merasa aman dan tubuhnya secara alami melepaskan hormon relaksasi. Bukan hanya “bikin ngantuk,” ini adalah terapi perilaku yang terbukti ilmiah.
2. Membangun Kecerdasan Emosional (Empati)
Tanpa perlu ceramah panjang lebar, dongeng mengajarkan anak tentang emosi. Saat mendengar kisah Si Kancil yang ketakutan atau Timun Mas yang sedih, anak belajar mengidentifikasi dan memvalidasi perasaannya sendiri .
Menurut psikolog Jordan V. Ahar, aktivitas ini membangun empati sejak dini. Anak belajar memahami perspektif orang lain—sebuah fondasi kecerdasan emosional yang lebih tinggi nilainya daripada sekadar nilai akademis .
3. Mempererat Bonding (Ikatan) yang Tak Tergantikan
Dalam kesibukan Ayah dan Bunda bekerja, kualitas waktu sering kalah oleh kuantitas. Waktu mendongeng adalah momen eksklusif di mana tidak ada distorsi gadget.
Sebuah penelitian Reid Lyon, Kepala Institut Nasional Kesehatan Anak AS, menyatakan bahwa aktivitas ini menjadi sarana membangun kedekatan emosional yang mendalam. Sentuhan fisik, kontak mata, dan tawa bersama saat membaca cerita menciptakan rasa aman (secure attachment) yang membuat anak lebih percaya diri saat dewasa .
4. Meningkatkan Kemampuan Bahasa dan Literasi Dini
Sebuah riset dari WorldBank pada 2018 menyebutkan bahwa 55% anak usia 15 tahun di Indonesia tergolong buta huruf fungsional (hanya bisa membaca teks, namun tidak bisa menjawab pertanyaan tentang teks tersebut) .
Kebiasaan mendongeng adalah solusi paling murah untuk masalah ini. Semakin sering anak mendengar kosakata baru, semakin kaya perbendaharaan bahasanya. Bahkan sebelum bisa membaca, otak anak sedang memetakan struktur bahasa yang akan membuatnya lebih siap memasuki dunia sekolah.
5. Melatih Fokus dan Konsentrasi di Era Digital
Di zaman yang penuh distorsi layar, melatih anak untuk duduk diam dan mendengarkan adalah tantangan besar. Mendongeng melatih sustained attention (perhatian berkelanjutan).
Agar manfaat ini maksimal, Ayah dan Bunda bisa menerapkan teknik Read Aloud (membaca nyaring) seperti yang direkomendasikan untuk guru dan orang tua. Teknik ini melibatkan ekspresi wajah, pengaturan nada suara, dan jeda untuk bertanya, yang secara aktif memaksa otak anak untuk tetap fokus pada alur cerita .
6. Menanamkan Nilai Moral Tanpa Kesan Menggurui
Metode ceramah atau omelan seringkali membuat anak menutup telinga. Dongeng adalah cara halus untuk menyampaikan nilai kejujuran, keberanian, dan kebaikan.
Seperti yang dijelaskan Sosiolog UGM, Soeprapto, budaya mendongeng sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter (affective). Melalui tokoh dalam cerita, anak secara alami meniru perilaku positif dan merefleksikan mana yang baik dan buruk, tanpa merasa sedang dinasihati .
7. Meningkatkan Kemampuan Kognitif dan Imajinasi
Dongeng merangsang bagian otak yang bertanggung jawab untuk visualisasi. Ketika Ayah membacakan tentang “istana di awan”, otak anak akan berusaha membayangkan bentuknya. Ini berbeda dengan menonton TV di mana gambar sudah tersaji jadi.
Proses “membayangkan” ini ibarat olahraga untuk otak. Semakin sering dilakukan, semakin tajam kemampuan berpikir kreatif dan problem solving anak kelak.
Tips untuk Ayah & Bunda: Jangan Lupa Diskusikan
Jangan langsung menyampaikan kesimpulan pesan moral seperti “Jadi anak harus baik ya”. Setelah selesai mendongeng, lakukan CDBA (Diskusikan Cerita Bersama Anak) . Tanyakan, “Menurut Adik, apakah perbuatan si Kancil tadi benar?” atau “Sedih nggak lihat Malin Kundang dihukum?” .
Metode ini memaksa anak untuk berpikir kritis dan mengambil pelajaran secara mandiri, yang lebih membekas di ingatan jangka panjang.
Sumber Referensi:
- RRI.co.id. (2025). Dongeng Sebelum Tidur Tingkatkan Kedekatan Anak Bunda
- Tribunjogja. (2018). Ini Manfaat Membiasakan Membaca Dongeng Sebelum Tidur pada Anak
- Journal of Pediatric Psychology. (2004). Brief report: a “storybook” ending to children’s bedtime problems
- Padek Jawapos. (2024). SD Negeri 30 Payakumbuh, Bercerita dan Mendongeng bagi Pendidik
- TIMES Indonesia. (2025). Lebih dari Sekadar Cerita: Manfaat Mendongeng untuk Anak