Hubungan orangtua dan anak tidak hanya dibangun dari seberapa banyak waktu yang dihabiskan bersama. Cara Ayah dan Bunda mendengarkan, merespons, memberi perhatian, serta memahami perasaan anak juga punya peran besar dalam membentuk kedekatan di dalam keluarga.
Hubungan yang hangat dan responsif membantu anak merasa aman, didengar, dan dihargai. Interaksi sederhana seperti berbicara, bermain, atau merespons cerita anak bahkan dapat mendukung perkembangan kemampuan sosial dan komunikasi mereka. Harvard Center on the Developing Child menyebut pola interaksi dua arah antara anak dan orang dewasa yang responsif sebagai serve and return, yang berperan penting dalam perkembangan otak dan kemampuan sosial anak.
Lalu, apa yang bisa dilakukan Ayah dan Bunda untuk memperkuat hubungan dengan anak?
Daftar Isi
Toggle1. Luangkan waktu khusus bersama anak
Tidak harus selalu pergi berlibur atau melakukan kegiatan mahal. Waktu 10–15 menit tanpa gangguan gadget sudah bisa menjadi kesempatan untuk benar-benar terhubung dengan anak.
Ayah dan Bunda bisa menemani anak bermain, membaca buku, menggambar, atau sekadar bercerita tentang kegiatan hari itu. Yang terpenting adalah memberikan perhatian penuh selama waktu tersebut.
2. Dengarkan anak tanpa buru-buru menghakimi
Ketika anak bercerita, usahakan tidak langsung memotong atau menyalahkan. Dengarkan sampai selesai dan tunjukkan bahwa Ayah dan Bunda tertarik dengan ceritanya.
CDC merekomendasikan active listening, yaitu memberikan perhatian penuh, melakukan kontak mata, dan mencoba memahami apa yang sedang dirasakan anak. Cara ini membantu anak merasa bahwa pendapat dan perasaannya dianggap penting.
Misalnya, ketika anak berkata, “Aku nggak mau sekolah besok,” jangan langsung menjawab, “Jangan malas.” Coba tanyakan lebih dulu, “Kenapa kamu nggak mau sekolah?”
Kadang dari pertanyaan sederhana itu, Ayah dan Bunda bisa menemukan masalah yang sebenarnya.
3. Berikan apresiasi yang spesifik
Anak membutuhkan apresiasi, tetapi pujian akan lebih bermakna jika Ayah dan Bunda menyebutkan perilaku yang dilakukan anak.
Daripada hanya mengatakan “Hebat!”, bisa mengatakan, “Bunda senang kamu sudah merapikan mainan sendiri.”
Menurut CDC, pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku positif apa yang dihargai oleh orangtuanya.
4. Bermain mengikuti minat anak
Sesekali biarkan anak memilih permainan yang ingin dilakukan. Ayah dan Bunda cukup mengikuti, bertanya, dan merespons apa yang sedang anak kerjakan.
Misalnya anak sedang menyusun balok, Ayah bisa ikut menyusun sambil berkata, “Wah, ini mau dibuat jadi rumah?” Interaksi kecil seperti ini membuat anak merasa diperhatikan.
Respons yang diberikan orang dewasa terhadap apa yang anak lihat, lakukan, atau rasakan merupakan bagian dari interaksi serve and return yang mendukung perkembangan komunikasi dan kemampuan sosial.
5. Buat kebiasaan ngobrol setiap hari
Hubungan yang dekat dibangun dari komunikasi yang konsisten, bukan hanya ketika anak sedang memiliki masalah.
Ayah dan Bunda bisa membiasakan ngobrol sebelum tidur, saat makan, atau ketika perjalanan. Tanyakan hal sederhana seperti apa yang paling menyenangkan hari ini, apa yang membuatnya kesal, atau siapa teman yang paling sering diajak bermain.
CDC juga merekomendasikan kesempatan berbicara secara rutin sebagai salah satu cara memperkuat hubungan dengan anak dan membantu anak lebih terbuka mengenai perasaan serta kehidupannya.
6. Kurangi penggunaan gadget saat bersama anak
Anak bisa merasakan ketika Ayah atau Bunda berada di dekatnya tetapi perhatian justru tertuju pada layar.
Saat sedang berbicara atau bermain, coba simpan ponsel untuk beberapa saat. Kontak mata, ekspresi wajah, dan respons langsung membuat komunikasi terasa lebih hangat.
7. Tetap dekat meski sedang memberi aturan
Memperkuat hubungan bukan berarti membiarkan anak melakukan semua yang diinginkan. Anak tetap membutuhkan batasan dan arahan yang jelas.
Ayah dan Bunda bisa tegas terhadap perilaku yang tidak sesuai, tetapi tetap menunjukkan bahwa kasih sayang tidak berubah. Anak perlu memahami bahwa yang tidak disetujui adalah perilakunya, bukan dirinya.
8. Jangan menunggu hubungan menjadi renggang
Hubungan orangtua dan anak sebaiknya dirawat sejak anak masih kecil. Kebiasaan mendengarkan, bermain bersama, berbicara terbuka dan memberikan respons yang hangat akan menjadi dasar komunikasi ketika anak semakin besar.
CDC menekankan bahwa hubungan positif antara orangtua dan anak dimulai sejak awal kehidupan dan berkembang seiring pertumbuhan anak.
Baca juga: Perhatikan 4 Hal Ini agar Playdate Si Kecil Berjalan Lancar
Kesimpulan
Memperkuat hubungan orangtua dan anak sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana. Ayah dan Bunda tidak harus selalu menyediakan banyak waktu, tetapi usahakan waktu yang ada benar-benar berkualitas.
Dengarkan cerita anak, bermain bersama, berikan apresiasi, tanyakan perasaannya dan hadir ketika anak membutuhkan. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membangun hubungan yang lebih dekat dan membuat anak merasa aman bersama orangtuanya.




