Fimosis pada anak adalah kondisi ketika kulit kulup (preputium) sulit atau tidak dapat ditarik ke belakang untuk membuka kepala penis (glans). Kondisi ini cukup sering membuat Ayah dan Bunda khawatir, terutama ketika melihat kulup anak belum bisa terbuka sepenuhnya.
Namun, kulup yang belum bisa ditarik pada bayi dan anak kecil tidak selalu berarti penyakit atau harus segera disunat. Pada banyak anak, kondisi tersebut merupakan bagian dari perkembangan normal dan akan semakin longgar seiring bertambahnya usia.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah terdapat keluhan seperti nyeri, infeksi berulang, sulit buang air kecil, atau muncul jaringan parut pada kulup.
Daftar Isi
ToggleApa Itu Fimosis pada Anak?
Fimosis adalah kondisi ketika lubang kulup terlalu sempit sehingga kulit kulup tidak dapat ditarik melewati kepala penis.
Pada bayi baru lahir, kulup memang umumnya masih menempel pada kepala penis dan belum dapat ditarik. Kemampuan kulup untuk ditarik akan berkembang secara bertahap.
Pedoman European Association of Urology (EAU) menjelaskan bahwa ketidakmampuan menarik kulup dapat menjadi kondisi fisiologis yang normal, terutama jika anak tidak mengalami nyeri, infeksi, atau gangguan saat buang air kecil.
Karena itu, Ayah dan Bunda tidak perlu langsung panik hanya karena kulup anak belum bisa ditarik.
Apakah Fimosis pada Anak Itu Normal?
Pada usia anak-anak, kulup yang belum dapat ditarik sepenuhnya bisa merupakan kondisi normal.
Kemampuan retraksi kulup meningkat seiring usia. Pedoman Royal Children’s Hospital Australia menyebutkan bahwa retraksi penuh dapat terjadi pada sekitar 10% anak usia 1 tahun, sekitar 50% pada usia 10 tahun, dan sekitar 99% pada usia 17 tahun.
Jadi, anak yang masih memiliki kulup tidak bisa ditarik bukan otomatis mengalami fimosis patologis.
Yang menjadi perhatian adalah ketika kulup sebelumnya sudah dapat ditarik kemudian menjadi tidak dapat ditarik, terdapat jaringan parut, atau muncul keluhan.
Penyebab Fimosis pada Anak
Fimosis dapat terjadi karena beberapa kondisi, antara lain:
1. Proses perkembangan normal
Pada bayi dan anak kecil, kulup masih dalam proses pemisahan secara alami dari kepala penis. Kondisi ini biasanya tidak membutuhkan pengobatan selama tidak menimbulkan masalah.
2. Menarik kulup secara paksa
Ini merupakan hal yang perlu sangat diperhatikan Ayah dan Bunda.
Menarik kulup dengan paksa ketika belum siap dapat menyebabkan luka kecil dan pembentukan jaringan parut. Jaringan parut tersebut justru dapat membuat lubang kulup semakin sempit dan menyebabkan fimosis patologis.
Karena itu, jangan memaksa kulup anak agar terbuka.
3. Peradangan atau infeksi berulang
Peradangan pada kepala penis dan kulup, yang dikenal sebagai balanitis atau balanopostitis, dapat menyebabkan pembengkakan dan perubahan pada jaringan kulup.
Jika peradangan terjadi berulang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap terbentuknya jaringan parut.
4. Jaringan parut atau kondisi kulit tertentu
Fimosis patologis dapat ditandai dengan adanya cincin jaringan parut yang terlihat putih dan menebal di ujung kulup.
Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan jaringan parut adalah balanitis xerotica obliterans (BXO), suatu bentuk penyakit kulit yang dapat mengenai kulup dan membutuhkan evaluasi medis.
Ciri-Ciri Fimosis pada Anak
Tidak semua kulup yang tidak dapat ditarik merupakan masalah. Ayah dan Bunda perlu memperhatikan beberapa tanda berikut:
- Kulup tidak dapat ditarik dan terdapat cincin yang tampak putih atau menebal.
- Kulup sebelumnya bisa ditarik, tetapi kemudian tidak bisa lagi.
- Anak merasa sakit ketika buang air kecil.
- Aliran urine menjadi sangat kecil atau melemah.
- Kulup mengembung saat anak buang air kecil dan disertai keluhan lainnya.
- Anak mengalami peradangan atau infeksi pada penis berulang kali.
- Terdapat nyeri atau pembengkakan pada kulup.
- Terdapat perubahan warna atau jaringan parut pada ujung kulup.
Menurut pedoman klinis, adanya jaringan parut, kulup yang kembali menjadi tidak dapat ditarik, serta gangguan berkemih merupakan tanda yang lebih mengarah pada fimosis patologis dibandingkan sekadar kulup yang belum dapat diretraksi karena perkembangan normal.
Kulup Mengembang Saat Buang Air Kecil, Apakah Berbahaya?
Ayah dan Bunda mungkin pernah melihat kulup anak menggelembung ketika buang air kecil.
Kondisi ini disebut ballooning of the foreskin.
Pada banyak anak, ballooning dapat menjadi bagian dari perkembangan normal dan bukan berarti urine tersumbat. EAU menyebutkan bahwa ballooning saja bukan indikasi otomatis untuk tindakan operasi, terutama jika anak dapat buang air kecil dengan baik dan tidak mengalami infeksi berulang.
Namun, jika penggelembungan disertai nyeri, aliran urine sangat kecil, infeksi berulang, atau terdapat lubang kulup yang sangat sempit, anak sebaiknya diperiksa oleh dokter.
Kapan Fimosis pada Anak Harus Ditangani?
Tidak semua fimosis membutuhkan tindakan.
Jika anak tidak mengalami keluhan dan kondisi kulup masih sesuai dengan perkembangan normal, dokter biasanya dapat menyarankan observasi dan perawatan yang tepat.
Penanganan perlu dipertimbangkan apabila anak mengalami:
- Nyeri saat buang air kecil.
- Kesulitan buang air kecil.
- Infeksi atau peradangan yang berulang.
- Fimosis patologis dengan jaringan parut.
- Kulup yang sebelumnya dapat ditarik kemudian menjadi tidak dapat ditarik.
- Fimosis yang tetap menimbulkan keluhan meskipun sudah mendapat terapi konservatif.
Untuk fimosis yang bergejala, pedoman EAU merekomendasikan kortikosteroid topikal sebagai salah satu pilihan terapi lini pertama. Terapi ini harus digunakan sesuai petunjuk dokter, karena cara penggunaan dan lama terapi perlu disesuaikan dengan kondisi anak.
Tinjauan Cochrane yang diterbitkan pada 2024 juga mengevaluasi penggunaan kortikosteroid topikal untuk fimosis pada anak dan mendukung penggunaannya sebagai terapi yang efektif pada kasus yang sesuai.
Apakah Fimosis Harus Disunat?
Tidak selalu.
Sunat bukan otomatis menjadi pilihan pertama untuk setiap anak yang kulupnya belum dapat ditarik.
Pada fimosis fisiologis tanpa keluhan, tindakan biasanya tidak diperlukan. Sedangkan pada fimosis yang menimbulkan masalah, dokter dapat mempertimbangkan terapi obat terlebih dahulu.
Tindakan operasi, termasuk sunat atau prosedur untuk memperlebar kulup, dapat dipertimbangkan apabila fimosis patologis menetap, berulang, atau tidak memberikan respons yang cukup terhadap terapi konservatif. EAU menyebutkan fimosis yang bergejala dan tidak responsif terhadap terapi sebagai salah satu kondisi yang dapat menjadi indikasi tindakan bedah.
Jadi, keputusan sunat sebaiknya dibuat setelah kondisi penis anak diperiksa secara langsung oleh tenaga medis.
Jangan Paksa Kulup Anak Dibuka
Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah mencoba menarik kulup anak dengan paksa ketika mandi.
Hal ini justru dapat menyebabkan luka dan jaringan parut. Dalam jangka panjang, luka tersebut dapat memperburuk penyempitan kulup.
Perawatan yang dianjurkan adalah membersihkan penis dengan lembut dan tidak menarik kulup melebihi batas yang dapat dilakukan secara alami. Ketika kulup sudah dapat ditarik dengan mudah, barulah bagian tersebut dapat dibersihkan dengan lembut dan kulup harus dikembalikan menutupi kepala penis.
Kapan Harus Segera Dibawa ke Dokter?
Ada kondisi tertentu yang tidak sebaiknya ditunggu di rumah.
Ayah dan Bunda perlu segera mencari pertolongan medis apabila:
1. Anak tidak dapat buang air kecil
Kesulitan atau ketidakmampuan mengeluarkan urine merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan segera.
2. Kulup tertarik ke belakang dan tidak bisa dikembalikan
Kondisi ini disebut parafimosis. Kulup yang terjebak di belakang kepala penis dapat menyebabkan pembengkakan dan mengganggu aliran darah.
Parafimosis merupakan keadaan darurat medis dan membutuhkan penanganan segera.
3. Penis membengkak, sangat nyeri, atau berubah warna
Pembengkakan berat, warna kebiruan atau kehitaman pada bagian penis perlu segera diperiksa karena dapat menunjukkan gangguan aliran darah.
4. Demam disertai penis merah dan bengkak
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan infeksi dan membutuhkan evaluasi dokter.
Baca juga: Fimosis pada Pria: Penyebab, Gejala, dan Pilihan Penanganannya
Bagaimana Cara Merawat Kulup Anak?
Perawatan sebenarnya cukup sederhana:
- Jangan menarik kulup secara paksa.
- Bersihkan bagian luar penis dengan air saat mandi.
- Hindari penggunaan sabun yang keras pada area genital.
- Jika kulup sudah dapat ditarik secara alami, tarik perlahan saat membersihkan.
- Setelah dibersihkan, kembalikan kulup ke posisi semula.
- Periksakan anak jika muncul nyeri, infeksi berulang atau gangguan buang air kecil.
Ayah dan Bunda tidak perlu melakukan latihan




