7 Alasan Ibu Perlu Menjalin Ikatan Emosional dengan Bayi Sejak Dini

7 Alasan Ibu Perlu Menjalin Ikatan Emosional dengan Bayi Sejak Dini

Ikatan emosional antara ibu dan bayi mulai terbentuk melalui berbagai interaksi sederhana sejak awal kehidupan. Bukan hanya saat menggendong atau menyusui, tetapi juga ketika Bunda menatap wajah bayi, merespons tangisnya, mengajaknya berbicara dan memberikan sentuhan lembut.

Hubungan yang hangat dan responsif menjadi bagian penting dari perkembangan bayi. WHO dan UNICEF juga menempatkan responsive caregiving atau pengasuhan responsif sebagai salah satu unsur penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sejak dini.

Lalu, mengapa ikatan emosional perlu dibangun sejak bayi masih kecil?

1. Membantu Bayi Merasa Aman

Bayi belum dapat menyampaikan kebutuhannya dengan kata-kata. Tangisan, gerakan tubuh, ekspresi wajah dan suara menjadi cara mereka berkomunikasi.

Ketika Bunda mencoba memahami dan merespons sinyal tersebut dengan lembut, bayi belajar bahwa ada orang yang dapat memberikan rasa aman ketika dirinya membutuhkan bantuan. Respons yang konsisten membantu membangun hubungan yang hangat antara bayi dan orang yang merawatnya.

2. Mendukung Perkembangan Otak

Tahun-tahun pertama kehidupan merupakan masa penting bagi perkembangan otak. Interaksi sederhana seperti mengajak bayi berbicara, tersenyum, bermain dan merespons suara yang dibuatnya dapat memberikan rangsangan bagi perkembangan otak.

Harvard Center on the Developing Child menyebut interaksi dua arah antara anak dan orang dewasa sebagai serve and return. Ketika bayi memberikan respons melalui suara, tatapan atau gerakan lalu orang tua menanggapinya, hubungan tersebut membantu membangun dan memperkuat jaringan otak yang mendukung proses belajar dan perkembangan.

3. Membantu Perkembangan Bahasa

Tidak perlu menunggu bayi bisa berbicara untuk mulai mengajaknya berkomunikasi. Bunda dapat menceritakan apa yang sedang dilakukan, menyebut nama benda di sekitar, bernyanyi atau menirukan suara bayi.

Kebiasaan tersebut membuat bayi terbiasa mendengar bahasa dan belajar memahami pola komunikasi. UNICEF juga memasukkan berbicara, bernyanyi dan bermain bersama orang tua atau pengasuh sebagai bentuk pengasuhan responsif yang mendukung pembelajaran sejak dini.

4. Membantu Bayi Mengenali dan Mengelola Emosi

Bayi memang belum bisa memahami emosinya seperti orang dewasa. Namun, melalui hubungan yang responsif, mereka perlahan belajar mengenali rasa nyaman, tidak nyaman, tenang maupun membutuhkan bantuan.

Saat Bunda memeluk bayi ketika menangis atau berbicara dengan suara tenang ketika bayi terlihat gelisah, Bunda sedang membantu memberikan pengalaman bahwa emosi dapat dihadapi dengan dukungan dari orang yang dipercaya.

5. Memperkuat Hubungan Ibu dan Bayi

Ikatan emosional tidak selalu muncul secara instan setelah bayi lahir. Hubungan tersebut dapat tumbuh sedikit demi sedikit melalui rutinitas sehari-hari.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa bonding merupakan proses yang berkembang seiring waktu. Sentuhan, menggendong, kontak mata dan kehadiran orang tua menjadi bagian dari proses tersebut.

Jadi, Bunda tidak perlu merasa bersalah jika hubungan emosional dengan bayi belum terasa kuat sejak hari pertama. Yang terpenting adalah terus membangun kedekatan melalui interaksi sehari-hari.

6. Mendukung Kemampuan Sosial Anak di Kemudian Hari

Hubungan yang responsif memberikan pengalaman awal bagi bayi tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Ketika bayi terbiasa mendapatkan respons terhadap suara, ekspresi dan gerakannya, ia belajar bahwa komunikasi berlangsung dua arah.

Harvard menjelaskan bahwa interaksi serve and return menjadi bagian penting dalam perkembangan kemampuan sosial dan emosional anak.

Karena itu, waktu bermain bersama bayi sebenarnya bukan sekadar mengisi waktu luang. Momen kecil tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar sosialnya.

7. Membuat Rutinitas Pengasuhan Lebih Bermakna

Membangun ikatan emosional tidak harus dilakukan melalui kegiatan khusus. Mengganti popok, memandikan bayi, menyusui, menggendong atau menidurkan bayi dapat menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan.

Bunda bisa menatap bayi, tersenyum, berbicara atau menyanyikan lagu sederhana. Ayah juga dapat terlibat dalam aktivitas tersebut sehingga bayi memiliki hubungan dekat dengan lebih dari satu pengasuh yang memberikan rasa aman.

WHO menekankan bahwa pengasuhan responsif dan kesempatan belajar sejak dini merupakan bagian penting dari dukungan terhadap perkembangan anak.

Bagaimana Cara Membangun Ikatan Emosional dengan Bayi?

Ayah dan Bunda tidak perlu melakukan hal yang rumit. Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan setiap hari antara lain:

  • Sering menggendong dan memberikan sentuhan lembut.
  • Melakukan kontak mata saat berbicara dengan bayi.
  • Merespons tangisan dan suara bayi.
  • Mengajak bayi berbicara atau bernyanyi.
  • Bermain sesuai usia dan kemampuan bayi.
  • Memberikan perhatian ketika bayi menunjukkan ketertarikan pada sesuatu.
  • Melibatkan Ayah dalam aktivitas pengasuhan.

Yang terpenting bukan berapa lama waktunya, tetapi bagaimana kualitas interaksi tersebut. Bahkan beberapa menit interaksi penuh perhatian di sela aktivitas sehari-hari dapat menjadi kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dekat.

Baca juga: 6 Aktivitas Wajib Sehari-hari Bersama Si Kecil

Kesimpulan

Menjalin ikatan emosional dengan bayi sejak dini bukan berarti Bunda harus selalu berada di samping bayi setiap saat. Ikatan tersebut tumbuh dari banyak momen kecil yang dilakukan berulang, seperti memeluk, berbicara, menatap, bermain dan merespons kebutuhan bayi.

Dengan pengasuhan yang hangat dan responsif, Ayah dan Bunda ikut memberikan fondasi penting bagi rasa aman, kemampuan berkomunikasi, perkembangan sosial-emosional dan proses belajar anak sejak awal kehidupannya.

Bagikan :